• News
  • TRADISI JAMASAN TOSAN AJI DIGELAR SEBAGAI BENTUK PENGHARGAAN MAHAKARYA LELUHUR

TRADISI JAMASAN TOSAN AJI DIGELAR SEBAGAI BENTUK PENGHARGAAN MAHAKARYA LELUHUR


Purbalingga - Dalam rangka memasuki tahun baru Islam atau tahun baru Jawa (Suro), ada tradisi yang biasa dilakukan pihak museum untuk menggelar acara kirab pusaka dan jamasan tosan aji (membersihkan pusaka).

Seperti salah satu tradisi yang dilakukan pihak Museum Prof. DR. R. Soegarda Poerbakatja Purbalingga di Purbalingga Lor, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Jumat (11 September 2020)

Namun karna ditengah Pandemik COVID-19 dilaksanakan perayaan tradisi dilakukan secara sederhana, baik penjamas maupun pengelola museum dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. 

Selain itu, ada juga tradisi lain yang lebih utama, yaitu mencuci (membersihkan) benda pusaka atau dalam bahasa Jawa disebut jamasan tosan aji (pusaka).

Penjamas, Subekti kuntoro Aripurwoko mengatakan, setiap daerah melaksanakan jamasan waktunya tidak pasti, jamasan tosan aji dikelompokan menjadi dua jamasan ageng dan jamasan alit.

"Jamasan dilakukan setiap daerah tidak sama, jamasan ageng yang dilakukan setahun sekali bisa dilakukan di bulan Suro maupun bulan Maulid," katanya.

Menurutnya, jamasan alit tidak ditentukan waktunya misalnya kelihatan korosi (karatan atau kotor, red) jadi jamasan tidak tergantung bulan tertentu.

Sedangkan Jamasan di museum Purbalingga dilaksanakan setiap tahun pada bulan Suro namun jamasannya di tentukan hari-hari yang baik tentunya.

"Pembersihan di museum ini menganut pada bulan suro, menentukan harinya biasanya hari jumat kliwon, Selasa kliwon atau Jumat legi (manis,red) yang bertepatan dalam bulan suro," ungkapnya.

Sementara Kasi cagar budaya 
Permuseuman dan Sejarah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga, Sudino Sp.d mengatakan, Merupakan kegiatan rutin tahunan yang dilakukan pada setiap bulan Sura, tahun ini jatuh pada hari Jumat Kliwon.

"Di pilih Jumat kliwon setiap bulan Suro karna ini tradisi dari pendahulu-pandahulu kita", katanya pada tabloidpamor.com, Sabtu (12 September 2020).

Menurut ia, tujuan melakukan jamasan bukan kita mengkultuskan pada benda-benda peninggalannya namun kita harus menghargai kepada si pembuatnya di saat itu sudah bisa membuat keris dengan yang luk ada tiga, sembilan dan seterusnya. 

"Kami tidak mengkultuskan keris namun sebagai salah satu maha karya warisan budaya bangsa dari para leluhur patut dilestarikan," ujarnya.

Intinya tradisi jamasan tosan aji ini untuk melestarikan sebagai peninggalan zaman dulu. Benda pusaka-pusaka ini dianggap menyimpan sejarah dan kebanggaan.

 "Jadi anak cucu kita saat ini sampai nanti masih bisa mengetahui sejarah dari buah karya para empu," pungkas Dono.//MN