• News
  • Syekh Atas Angin dan Nyimas Rubiah Bekti

Syekh Atas Angin dan Nyimas Rubiah Bekti


Penyebaran Islam di sisi bagian Timur Gunung Slamet diawali dari puncak Lawet tepatnya setelah Mbah Jambu Karang memeluk Agama Islam, tentu bukan perkara mudah mengubah keyakinan seseorang apalagi setingkat resi seperti Mbah Jambu Karang.

Entah strategi apa yang digunakan Syekh Atas Angin dalam komunikasinya, yang pasti tidak lepas dari norma luhur yang berlaku saat itu. Terbukti dari kesan yang diterima Mbah Jambu Karang bukan saja soal keyakinan tetapi juga tentang kepercayaan.

Sementara kepercayaan itu tumbuh setelah ada keteladanan, kemungkinan karena keteladanan itulah yang membuat Mbah Jambu Karang ikhlas menjodohkan putrinya yang bernama Nyimas Rubiah Bekti dengan Syekh Atas Angin.

Keteladanan Syekh Atas Angin semakin terang setelah menikah dengan Nyimas Rubiah Bekti, hal itu dapat dilihat dari putra putrinya yang menjadi teladan dalam mensyiarkan Islam hingga ke berbagai daerah.

Mereka adalah Syekh Makhdum Husen yang melanjutkan kiprah Syekh Atas Angin di Purbalingga, yang kedua Syekh Makhdum Madem di Cirebon, yang ketiga Syekh Makhdum Omar di Karimun Jawa, yang keempat Nyimas Rubiah Raja di Pekalongan, dan yang terakhir Nyimas Rubiah Sekar di Banjarnegara.

Demikian Islam dalam penyebarannya yang diambil dari cerita tutur yang berkembang di masyarakat Jawa khususnya di sisi bagian Timur Gunung Slamet.

Makam Nyimas Rubiah Bekti berada di Desa Kramat, Kecamatan Karang Moncol, Kabupaten Purbalingga. Hingga kini makam tersebut masih terjaga keberadaannya dan kerap dikunjungi peziarah, seperti penuturan Ki Suwarto (70) kepada Pamor, Senin (16 Agustus 2021) lalu. //sp.