• News
  • Sunda Empire, Rd. Rasich Hanif Radinal: Kesedihan, Kekecewaan, dan Keprihatinan

Sunda Empire, Rd. Rasich Hanif Radinal: Kesedihan, Kekecewaan, dan Keprihatinan


Ciamis - Kemuculan kelompok-kelompok yang menganggap dirinya sebagai sebuah kerajaan baru diwilayah Nusantara ini menjadi fenomenal. Keraton Agung Sejagat dari wilayah Purworejo Jawa Tengah dan Sunda Empire-Earth Empire di Bandung Jawa Barat.

Fenomena ini telah menyita perhatian masyarakat di Indonesia khususnya wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Menanggapi kemunculan kelompok-kelompok tersebut, Sekertaris Jenderal Forum Silahturahmi Keraton Nusantara sekaligus sosok figur yang dinobatkan sebagai Raja Galuh pada 2018 silam, Rd. Rasich Hanif Radinal menuturkan bahwa dirinya sangat sedih, kecewa, dan perihatin.

"Sebab marwah kerajaan yang menjadi salah satu nilai aset bangsa yang harus dilestarikan, dijaga menjadi ikut di cemooh hanya karena kemunculan kerajaan baru yakni Sunda Empire dan Keraton Agung Sejagat," tutur Rd. Rasich Hanif Radinal kepada tabloidpamor.com saat ditemui di Museum Galuh Pakuan Jl. K.H. Ahmad Dahlan, Ciamis, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Minggu (19 Januari 2020) sore.

Rd. Rasich Hanif Radinal menjelaskan, kesedihan yang dirasakan lantaran di era globalisasi ini merubah gaya tatanan kehidupan budaya Indonesia. Masyarakat dipisahkan dengan adat istiadat, jati diri sudah menipis, rasa kebersamaan, gotong royong segala macamnya yang dulu begitu kental kini semua hilang.

"Globalisasi ini masuk, budaya asing masuk, generasi muda kita sudah tidak mengenal budaya, sementara kami dari budayawan dan kerajaan mempunyai amanat bahwa benteng pertahanan nasional kita itu Bhinneka Tunggal Ika, akan tetapi ujung-ujungnya budaya dan keraton benteng terakhir. Benteng terakhir dalam arti jati diri bangsa, sekarang ini ada di kerajaan kita, itu buat kami (Galuh)," ucapnya.

Maka dari itu, kata Rd. Rasich Hanif Radinal, begitu mengangkat adat istiadat budaya ini bukan untuk kekuasaan semata melainkan untuk pelestarian budaya dan aset bangsa yang seharusnya mempunyai nilai besar. "Masyarakat kita sedemikian sedih mungkin karena jati dirinya itu sehingga mudah diming-imingi atau dipengaruhi. Sementara sedihnya lagi ada orang lain yang memanfaatkan itu, menipu dan segala macamnya sehingga ini menjadi kesedihan buat saya dan kita semua di masyarakat kita," imbuhnya.

Untuk kekecewaan, Rd. Rasich Hanif Radinal menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin terlalu dalam. Seharusnya pihak-pihak tertentu yang seyogya-nya paham akan ini, paham akan budaya itu punya nilai aset bangsa yang harus dilestarikan, diteruskan ke generasi muda, dipertahankan dan semua itu ada di kerajaan. Jadi ujung-ujungnya kemajuan kebudayaan berbasis keraton.

"Kekecewaan yang kami rasakan adalah sesuatu hal yang mempunyai nilai arti besar seyogyanya harus kita lestarikan bersama, harus kita jaga dan diperhatikan oleh seluruh pihak, dan sekarang ini terasa kurang," tegasnya.

Sementara itu, Rd. Rasich Hanif Radinal mengungkapkan rasa keprihatinannya atas fenomenal yang terjadi saat ini, dimana munculnya kerajaan-kerajaan baru. "Keprihatinan saya adalah aset bangsa, benteng bangsa, kerajaan yang seharusnya mempunyai marwah yang harus kita jaga, lestarikan, adat istiadat budaya yang mempunyai nilai luhur menjadi olok-olokan. Nilai luhur yang menjadi aset kebanggaan menjadi ketawaan hanya karena oknum kelompok yang tiba-tiba muncul, apakah ini bukan penyusupan untuk merusak benteng terakhir kita. Aduh bangsa kita mau jadi apa ini, generasi penerus kita, kalau ini jadi komedian. Ini keprihatinan sangat besar buat kami, karena sesungguhnya ini adalah benteng bangsa kita, benteng terakhir untuk kita jaga dan lestarikan," ungkapnya.

Rd. Rasich Hanif Radinal menghimbau kepada masyarakat Indonesia bahwasannya kehadiran fenomena ini sangat memprihatinkan. Bukan sesuatu hal untuk di anggap sebagai suatu hal issu yang dijadikan satu humoran. Tetapi keprihatinan akan dampak semua ini.

"Jangan sampai bangsa kita sampai merasa bahwa budaya adalah bahan untuk ditertawakan, kerajaan tidak mempunyai marwah lagi. Kami sangat prihatin," ujarnya.

Selain itu, Rd. Rasich Hanif Radinal turut mengapresiasi kepada Pemerintah dan para aparat pemerintahan serta kepolisian yang telah bertindak langsung, tegas dalam permasalahan ini. "Semoga fenomena ini membawa berkah kepada kita semua, menyadari bahwa kerajaan mempunyai marwah dan benteng bangsa kita yang harus dilestarikan serta merupakan aset yang harus kita lestarikan kepada generasi penerus bangsa," tandasnya.//yuli.