• News
  • Rebutan Kudhi Nggo Jaga Pari

Rebutan Kudhi Nggo Jaga Pari


Kudhi alat pertanian tradisional khas Banyumas yang fungsinya hampir seperti golok, bendo, bedok, dan sejenisnya. Dalam cerita tutur Kudhi awalnya dimiliki Ki Buyut Pakukuhan (jelmaan Semar) saat membawa benih padi (Dewi Sri) dari khayangan ke Tanah Jawa, Ki Buyut tidak sendiri ia bersama Andong Dadapan (jelmaan petruk) dan Puring (jelmaan Gareng) yang bertugas menjaga benih padi dari khayangan sesaat setelah Dewi Sri berubah wujud menjadi padi.

Pada awalnya semua berjalan lancar, padi pun berkembang hingga menjadi makanan pokok penduduk di Jawa menggantikan kala pendem (ubi, ketela, dll). Hingga suatu hari saat Ki Buyut menjemur padi, seekor ayam trondol menghampiri dan ikut memakannya, oleh Ki Buyut ayam itu dibiarkan sampai kekenyangan. Kemudian Ki Buyut pergi ke hutan untuk melihat lahan baru yang sedang dibuka oleh Andong dan Puring. Tak lama berselang datanglah Dampuawang yang menjarah semua padi di pedukuhan itu termasuk milik Ki Buyut yang sedang di jemur, perbuatan Dampuawang tak lain untuk memindah semua padi ke tanah seberang agar tidak ada lagi padi di Jawa.

Penjarahan itu terjadi hanya beberapa saat setelah Ki Buyut pergi ke hutan dan kejadiannya berlangsung cepat, penduduk yang ketakutan seketika membunyikan titir hingga terdengar sampai ke hutan. Ki Buyut diikuti Andong dan Puring bergegas ke pedukuhan dan tidak ada sedikitpun padi yang tersisa, atas kejadian itu Ki Buyut ingat ayam trondol yang makan padi sampai kekenyangan tadi. Diutuslah Andong dan Puring untuk menangkap ayam itu sebelum matahari terbenam.

Singkat cerita ayam itupun berhasil ditangkap, lalu Ki Buyut memerintahkan untuk menyembelih dan mengambil sisa padi yang ada di temboloknya. Ki Buyut kemudian mengambil batok kelapa dan diberi lubang tiga (bathok bolong telu) batok itupun diisi tanah dan air sebagai tempat menabur padi yang tersisa di tembolok ayang trondol tadi. Ayam yang sudah dipotong kemudian dijadikan sarana untuk ritual yang diberi nama “Selametan” atau upaya menyelamatkan benih padi terakhir. Atas kehendak Sang Pencipta, nyawa ayam itu ditempatkan di Suargo Mutiara yang kelak akan diikuti oleh semua nyawa binatang yang digunakan untuk Selametan.

Agar kejadian serupa tidak terulang, Ki Buyut menggelar sayembara “Siapapun yang bisa membuat tempat padi dan menjaganya akan diberi pusaka Kudhi miliknya.” Ki Buyut menerima Kudhi dari Sang Hyang Wenang sebagai simbol kemakmuran sehingga bentuknya berbeda dengan senjata yang lain, karena Kudhi bukan alat untuk perang. Sayembara yang diikuti oleh Bawor dan Togog akhirnya dimenangkan oleh Bawor sehingga Bawor yang menerima Kudhi itu dan bertugas menjaga tempat padi atau lumbung, yang berarti menjaga Kemakmurane Jowo sedangkan Togog agar tidak kecewa diberi tugas oleh Ki Buyut untuk menjaga Katiran (saluran air di sawah) berjuluk Sanggabuana.

Demikian sekilas cerita tutur yang melatarbelakangi keberadaan Kudhi menurut penuturan Mbah Sanwiyata (92) sesepuh di Grumbul Kalitanjung, kepada Pamor, Rabu (1 September 2021). // sp – Ipung.