• News
  • PENCINTA KERIS IKUTI PELATIHAN JAMASAN DI MUSEUM PROF. DR. R SOEGARDA PURBALINGGA

PENCINTA KERIS IKUTI PELATIHAN JAMASAN DI MUSEUM PROF. DR. R SOEGARDA PURBALINGGA


Purbalingga - Puluhan pemerhati (pecinta) keris mengikuti "Workshop Perawatan (Jamasan) dan Perawatan Tosan Aji" yang dilaksanakan di halaman Museum Prof. Dr. R Soegarda Poerbakawatja Purbalingga yang berada di jalan Alun-alun Kabupaten Purbalingga.

Kegiatan workhop ini bertujuan agar masyarakat yang memiliki benda pusaka bisa lebih paham dalam perawatan logam tua dan bisa melakukanya secara mandiri, kegiatan tersebut digelar oleh pengelola Museum Prof. Dr. R Soegarda Poerbakawatja Purbalingga, Jawa Tengah, Minggu (15 Desember 2019).

Jamasan Pusaka merupakan cara untuk merawat benda-benda pusaka, benda-benda kuno maupun benda-benda bersejarah agar tetap terjaga keutuhanya. Ratusan tahun silam jamasan atau membersihkan keris maupun tombak pusaka hanya segelintir orang saja yang bisa belajar dan praktek. Selain itu, ilmu jamasanpun tidak diumbar sembarangan hanya kalangan tertentu saja. Namun, kini eranya sudah jauh berbeda.

Dalam workshop yang dihadiri oleh oleh Ki  Sadali (Mranggi, penjamas), Ki Ari Purwoko (Penjamas) dan Ki Wahyono Heri (seniman) sebagai pembicara, peserta diberi pelatihan langsung cara menjamas tosan aji dan keris. Selain itu juga dilakukan pameran benda benda tosan aji seperti keris dan tombak serta benda-benda bertuah lainnya.

Dalam paparanya, salah satu penjamas, Ki Sadali menjelaskan bahwa prosesi jamasan tidak terikat unsur mistik, klenik, dan sebagainya. Tapi merupakan hal lumrah menjaga keawetan keris dan tosan aji yang telah berumur ratusan tahun.

"Masalah keris kita tidak semata membicarakan wujudnya saja. Namun juga harus tahu cara pembuatan hingga cara perawatan keris yang sejatinya kaya akan filosofi. Ibarat tubuh manusia yang perlu dirawat agar selalu tampil prima dan kerispun perlu secara rutin untuk dijamas,”ujarnya.

Salah satu tujuan dari penjamasan, lanjut Ki Sadali, agar bersih dan tidak berkarat. Proses penjamasan harus sesuai dengan aturan, kami sebagai penjamas sudah memberikan metodenya. Dan nanti para kolektor atau penggemar benda tosan aji bisa melakukannya sendiri usai dilaksanakanya workshop.

Selaku panitia kegiatan, Anita Indah Cahyani menuturkan dengan adanya workshop jamasan tersebut, masyarakat bisa lebih paham soal perawatan keris juga tosan aji dan setelah kegiatan ini mereka bisa melakukannya secara mandiri.

"Dulu itu ilmu jamasan cukup tertutup untuk awam. Nah, sekarang ini bisa dibilang seperti sosialisasi agar masyarakat tahu teknis maupun konsep jamasan," tandas Anita.//MN.