• News
  • PEMBANGUNAN BANDARA JBS PURBALINGGA MENDONGKRAK HARGA TANAH

PEMBANGUNAN BANDARA JBS PURBALINGGA MENDONGKRAK HARGA TANAH


Purbalingga- Pembangunan Bandara Jenderal Besar Soedirman (JBS) Purbalingga telah mempengaruhi harga tanah di sekitar lokasi bandara, khususnya beberapa desa di wilayah Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Seperti di Desa Tidu yang merupakan satu diantara desa yang lokasinya lebih berdampak dan merupakan akses menuju pintu masuk terminal bandara.  Harga tanah di desa tersebut telah mengangkasa semenjak dalam perencanaan pembangunan bandara.

"Dampaknya positif adanya pembangunn bandara telah mempengaruhi harga tanah di desa kami menjadi naik," tutur kepala Desa Tidu, Matorin, saat di konfirmasi TabloidPamor.com via telepon,  Rabu (12 Februari 2020 ).

Matorin mengatakan sebelum adanya pembangunan bandara, harga tanah di desanya hanya berkisar Rp 2,8 juta per ubinnya dan sekarang harga pasaran tanah mencapai Rp 14 Juta per ubin.

Meski harga tanah naik tidak menyurutkan investor mencari lahan di wilayahnya.  Kabar yang diterimanya telah  ada investor yang akan mencari lahan.  Investor tersebut akan membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan pabrik.

Hal senada juga diutarakan Sekertaris Desa Wirasaba Eko Purwanto, ia menuturkan harga tanah di wilayah juga naik setelah dibangunnya bandara. Harga tanah pekarangan di wilayahnya telah mencapai Rp 14 juta per ubin sedangkan harga tanah pertanian Rp 4,2 juta per ubin.

"Sebelumnya harga tanah pekarangangan per ubin mencapai Rp 7 juta," ujarnya.

Menurutnya pangaruh kenaikan harga jual tanah sudah terjadi sejak dua tahun yang lalu, dan menurut informasi yang diterimanya, bahwa telah ada investor akan mencari lahan di wilayahnya.

"Ada yang akan membeli tanah di sekitar jalan baru menuju terminal bandara seharga Rp 14 juta per ubin atau Rp 1 juta per meter persegi. Katanya mau dibuat gudang cargo tapi belum ada realisasinya," tuturnya.

Camat Bukateja,  Harsono saat ditemui dikantornya membenarkan perihal tersebut. Ada beberapa desa yang tanahnya naik setelah adanya pembangunan bandara diantaranya Desa Wirasaba,  Desa Kembangan, Desa Bajong,  Desa Majasari, Desa Bukateja, Desa Kembangan, dan Desa Tidu.

"Desa-desa tersebut merupakan daerah yang dilewati menuju bandara," tutur dia.

Menurutnya, kenaikan harga tanah masih relatif terjangkau.  Kenaikan harga tanah wajar, bila disetiap daerah ada yang sedang membangun seperti Purbalingga ini.

"Kalau investor yang akan berinvestasi dì wilayah Bukateja kelihatannya masih kecil kemungkinannya.  Karena daerah Bukateja sebagian besar merupakan lahan hijau.  Tapi tidak tahu kedepannya tata ruangnya seperti apa," ujarnya.

Namun demikian,  untuk menunjang keberadaan bandara, pihaknya telah menggerakan masyarakat sekitar dalam hal ekonomi kerakyatan atas instruksi dan petunjuk dari Bu Tiwi (Bupati Purbalingga, red),  Kami juga telah mensosialisakan kepada masyarakat untuk mengembangkan industri rumahan (home industri).

"Diantaranya membuat cinderamata,  maupun makanan kecil untuk oleh-oleh penumpang pesawat," tandasnya.//MN