• News
  • Panembahan Putri Dan Kudi Cenggerengnya

Panembahan Putri Dan Kudi Cenggerengnya


Panembahan Putri yang diyakini sebagai makam Putri Keraton menyimpan cerita tentang keampuhan pusaka Kudi Cenggereng, sebuah pusaka yang konon digunakan untuk membuka gunung pasir yang menutupi aliran Sungai Sentolo ke Laut Selatan.

Seperti yang disampaikan Ki Panca Bumi Mataram seorang praktisi spiritual asal Sampang saat mengunjungi Panembahan Putri di Desa Welahan Wetan, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (24 Desember 2021) lalu.

"Yang saya tangkap saat meditasi di panembahan, bahwa Kudi Cenggereng yang dipakai untuk menjebol gunung pasir di bedahan Sungai Sentolo itu pusakanya Mbah Putri," ucap Ki Panca.

Menurutnya, tertutupnya bedahan Sungai Sentolo terjadi pada sekitar tahun 50-an, yang mengakibatkan sebagian wilayah Kecamatan Adipala tergenang air.

Berbagai upaya dilakukan oleh masyarakat dan pemerintahan daerah setempat, namun setiap kali gunung pasir tersebut diratakan, selang berapa saat ombak besar datang membawa pasir dan menutup kembali bedahan tersebut.

Hal senada juga disampaikan Mbah Darno (70) sang jurukunci panembahan yang menemani Pamor dan Ki Panca Bumi ke Pamenbahan Putri.

Mbah Darno menuturkan bahwa gunung pasir tersebut bisa jebol setelah digores dengan pusaka Kudi Cenggereng oleh istri Bupati Cilacap waktu itu.

"Jadi yang dipakai buat menjebol gunung pasir pada waktu itu pusakanya Mbah Putri yang dipegang oleh Bupati Cilacap era itu," terang Mbah Darno.

Sementara sejak kapan pusaka Kudi Cenggereng Mbah Putri dipegang oleh Bupati Cilacap waktu itu, Mbah Darno tidak mengetahui dengan pasti, tapi yang dia tahu hingga sekarang Pusaka Kudi Cenggereng tersebut masih dipegang oleh para pemimpin di Kabupaten Cilacap.

Selain menyimpan cerita tentang pusaka Kudi Cenggereng juga ada cerita turun temurun tentang riwayat Mbah Putri yang konon melalang buana dengan menaiki gajah dan menetap di desa tersebut.

"Jadi menurut cerita orang-orang tua dulu, Mbah Putri itu keturunan keraton yang melalang buana dengan menaiki gajah," ucapnya.

Sebagai pepunden desa, hingga saat ini Panembahan Putri masih banyak dikunjungi peziarah terutama pada hari Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon. Di panembahan ini setiap satu tahun sekali juga diadakan acara selamatan oleh masyarakat setempat dengan memotong kambing, dan acara itu diadakan setiap bulan Rajab.//ipung