• News
  • Panembahan Nusaweri, Tempat Bersemayamnya Mbok Dewi Sri

Panembahan Nusaweri, Tempat Bersemayamnya Mbok Dewi Sri


Berbicara tentang sejarah naluri adat dan budaya Jawa seperti tak ada habisnya. Kultur yang mencerminkan jati diri sebagai masyarakat Jawa pada umumnya melekat pada sendi kehidupan yang tidak bisa lepas dari segi peradaban.

Seperti halnya Nusaweri salah satu panembahan yang masih dikeramatkan (Wingit) oleh para petani warga Dusun Cigintung, Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Menurut sesepuh Dusun Cigintung, Mbah Waris (68) warga Dusun Cigintung RT 04 /RW 12, Kelurahan Kutawaru, Panembahan Nusaweri merupakan tempat keramat yang mengandung banyak unsur sejarah yang dapat menumbuhkan nilai luhur budaya adiluhung yang harus dipertahankan kelestariannya.

"Menurut cerita para pendahulu, Panembahan Nusaweri itu ada kaitannya dengan cerita Dewi Sri atau Dewi Padi," katanya saat ditemui Minggu (30 Januari 2021) lalu.

Menurut Waris, mengutip sejarah dari sesepuh terdahulu almarhum Eyang Parman, Panembahan Nusaweri merupakan tempat bersemayamnya seekor ular.

Konon ada seekor ular dilumbung padi petani tanpa sebab dan alasan pasti ular tersebut dibunuh oleh sang petani tersebut. Setelah ular dibunuh kemudian bangkai ular tersebut dibuang di Kali Mider.

"Konon, ceritanya bangkai ular yang dibuang bukannya membusuk tapi malah membesar layaknya ular yang masih hidup," jelas Waris.

Mendapati hal yang sangat ganjil para petani pada masa itu kemudian memngambil ular tersebut untuk dikubur. Tempat dikuburnya ular tersebut, sekarang diberi nama Panembahan Nusaweri.

Setelah bangkai dikubur terdengar suara ghaib. Ono suoro tanpo rupo (Ada suara tak ada rupa) yang mengutuk, tedhak pitu turun wolu akan mengalami kesusahan pangan.

Benar apa yang disampaikan dari suara ghaib yang berupa sabda kutukan bahwa pada masa itu petani mengalami kesengsaraan, masyarakat kelaparan lantaran petani menanam setelah panen hasil buahnya tidak berisi atau kosong.

"Ular yang dikubur konon merupakan jelmaan keturunan dari Dewi Nawangwulan yang bernama Kanthil Sari. Panembahan Nusaweri bisa disebut juga Panembahan Dewi Sri sebab warga sekitar khususnya petani mempercayai hasil petani dapat melimpah kalau saja tempat tersebut dirawat dan dijaga dengan baik, tak lepas dari itu semua campur tangan Gusti Kang Akaryo jagat yang menentukan segalanya," tuturnya.

Hingga berjalannya waktu, berakhirlah sabda kutukan yaitu semenjak tahun 1982 sampai sekarang petani di Dusun Cigintung mengalami perubahan, perkembangan dan kemajuan bahkan kemakmuran.

Entah karena sudah menganggap lepas dari kutukan, saat ini Panembahan Nusaweri yang berada di area perhutani Dusun Cigintung kondisinya miris tidak terawat bahkan roboh (Ambruk).

Namun demikian, Panembahan Nusaweri sampai sekarang masih dianggap sakral  (Wingit). Kendati sudah tidak ada lagi tradisi ritual pada bulan Syuro dimana masyarakat petani berkumpul untuk ngudi semedi nyenyuwun dateng Gusti (Berdoa dan meminta kepada Tuhan) dan menggelar selamatan di lokasi tersebut.

Di Dusun Cigintung sendiri menurut Mbah Waris masih ada tempat religi lain berupa Petilasan Naya Kerti dan Kerti Naya. Naya Kerti merupakan petilasan dari nama Den Bagus Wondho sedangkan Kerti Naya petilasan dari seorang Alim Ulama yang berjulukan Penghulu Srenggi," tandasnya.//Akmal-Warsono.