• News
  • Panembahan Beji, Tempat Dewi Anjani Bertapa Singgang Rambut

Panembahan Beji, Tempat Dewi Anjani Bertapa Singgang Rambut


Cerita tentang Cupu Manik Astagina yang menjadi rebutan ketiga anak Resi Gotama yaitu Guwarsa, Guwarsi dan Dewi Anjani melatarbelakangi keberadaan Panembahan Beji di Grumbul Wanacala, Desa Kemawi, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas.

Panembahan berupa tatanan batu persegi dan ditandai dengan pohon bulu yang sudah berumur ratusan tahun ini oleh masyarakat sekitar diyakini sebagai tempat Dewi Anjani bertapa Singgang Rambut hingga akhirnya melahirkan seorang kesatria pilih tanding bernama Anoman.

Bersama Sudiryanto, salah satu warga setempat dan Mbah Tarmono Gadal kasepuhan asal Ketanda, Sumpiuh, PAMOR mengunjungi tempat tersebut, Senin 26 Oktober 2020 lalu.

Menurut cerita, Dewi Anjani konon turut memperebutkan dan mengejar Cupumanik Astagina yang dibuang dan masuk ke Telaga (Beji).

Guwarsa dan Guwarsi menyelam untuk mencari Cupumanik, sedangkan Dewi Anjani hanya menunggu di pinggir telaga sembari mencuci mukanya.

Berbeda dengan Guwarsa dan Guwarsi yang berubah menjadi kera seutuhnya setelah keluar dari telaga, Dewi Anjani hanya berubah pada bagian wajah saja.

"Jadi menurut cerita para pinisepuh terdahulu, di tempat inilah Dewi Anjani bertapa untuk menebus kesalahan dan menghilangkan kutukan," kata Mbah Tarmono Gadal.

Dewi Anjani yang bertapa Singggang Rambut tersebut konon hanya boleh makan dan minum apa yang jatuh dari atas.

Pada masa bertapanya ia pun kejatuhan daun asam muda yang kemudian ia makan. Setelah memakan daun asam muda tersebut, Dewi Anjani pun mengandung dan melahirkan seoran anak yang diberinama Anoman.

Tidak hanya menyimpan cerita tentang Dewi Anjani yang bertapa, di Panembahan Beji juga menyimpan keanehan-keanehan lain, dimana disetiap bulan maulid ada dua ekor kera yang berkeliaran di lokasi tersebut.

Kedua kera yang sebenarnya berpasangan tersebut akan masuk ke lingkungan panembahan biasanya setelah hari raya Maulid. Sebelumnya mereka akan berkeliaran diluar lingkungan panembahan.

"Sekarang saja sudah ada yang datang. Sudah satu minggu ini, tapi masih jauh. Yang sering sih paling lama tiga minggu, trus mereka akan mati tidak jauh dari panembahan," ucap Sudiryanto.

Panembahan Beji sampai saat ini masih menjadi tempat ziarah masyarakat sekitar dan masyarakat luas pada umumnya. Dan akan ramai pengunjung pada hari dan bulan-bulan tertentu. //ipung