• News
  • Pancasila Itu Sudah Final

Pancasila Itu Sudah Final


Cilacap - Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang diajukan DPR RI menuai penolakan dari berbagai ormas islam dan lembaga swadaya masyarakat bahkan tokoh masyarakat. Salah satunya Tokoh Masyarakat Cilacap, H. Edwin Suhadi (74).

Saat ditemui tabloidpamor.com, H. Edwin Suhadi menegaskan, Pancasila itu sudah final, tidak perlu diutak atik lagi. Harus dibatalkan dan dihentikan, karena dikhawatirkan akan timbul pendapat atau asumsi bahwa Pancasila yang murni, ada Pancasila tandingan, sebab ada Trisila dan Ekasila.

Edwin juga menilai, RUU HIP harus distop, jangan dilanjukan karena akan menimbulkan permasalahan yang rumit bagi bangsa Indonesia, sehingga menimbulkan perpecahan. 

"Intinya seperti itu. RUU HIP itu banyak yang tidak mendukung, kalau tidak salah hanya 235 yang mendukung sedangkan 265 menolak," ujar Edwin, Senin (29 Juni 2020) sore di kediamannya.

Menurut Edwin, partai politik banyak yang menolak dan tidak setuju, hanya partai PDI Perjuangan, Golkar dan PPP yang setuju. Harus distop sehingga tidak menjadi problem yang terus berlanjut.

"Dalam mengurusi pandemi saja sudah kewalahan. RUU HIP tidak urgensial lah. DPR harusnya menghentikan, kan itu inisiatif DPR bukan presiden yang menghentikan," tuturnya.

Jika RUU HIP disahkan akan menimbulkan Pancasila tandingan, karena disana dimuat pasal yang mengatakan Ketuhan Yang Maha Esa dirubah dengan Ketuhanan Yang Berkebudayaan.

"Kan repot. Pancasila itu sudah final, itu saja tidak usah diutak atik. DPR tdak usah menambah pekerjaan yang tidak perlu dan malah bisa membuat perpecahan. DPR yang terhormat harus menghentikan dan menyetop RUU HIP," terangnya.

Kalau diteruskan, lanjut Edwin, nantinya terlalu banyak analisa yang tidak ada habisnya. Daripada terus mengembangkan analisa tersebut seolah Pancasila ciptaan Bung Karno.

"Pancasila itu bukan hanya ciptaan Bung Karno saja. Pancasila itu ciptaan BPUPKI dan sudah final. Kalau sudah final mau diutak atik, mau apa," jelasnya.

Edwin juga berpendapat, Trisila dan Ekasila nantinya malah membingungkan anak anak. Sekarang saja anak anak tidak mengerti Trisila dan ekasila.

"Kalau saya pernah diajari Trisila dan Ekasila, itu kan gagasan Bung Karno. Dahulu saja juga banyak yang tidak setuju," ujarnya.

Menanggapi pembakaran bendera partai PDI Perjuangan yang dibakar, menurut Edwin sangat disayangkan. Mengapa bendera partai berlambang banteng moncong putih itu harus dibakar.

"Kalau bendera PKI yang dibakar tidak apa apa, tetapi bendera PDI Perjuangan jangan ikut dibakar. Kurang pas dan kurang benar. Jangan emosi seperti itu. Kalau bendera PKI, silahkan. Partainya juga sudah dibubarkan sejak lama tidak usah membawa-bawa PDI Perjuangan," tuturnya.

Edwin juga mengungkapkan, jika tidak suka dengan RUU HIP biarlah dari PDI Perjuangan yang di DPR RI yang menyetop dan menghentikan pengesahan RUU tersebut, karena semua daerah menolak pengesahan RUU HIP. "Demokrasi harus dilakukan dengan santun, beradab dan damai," jelasnya.

Ditegaskan Edwin, penambahan Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi Ketuhanan Yang Berkebudayaan, malah akan menimbulkan permasalahan dan analisa lain dan akan menambah masalah yang tidak ada habisnya setiap tahun. 

"Itu kan ideologinya partai PDI Perjuangan, ya silahkan. Jangan dipaksakan partai lain kan tidak mau dan masyarakat juga menolak," pungkasnya. //W1D.