• News
  • Minimnya Sarpras Protokol Kesehatan, Proses Belajar Tatap Muka Perlu Dikaji Ulang

Minimnya Sarpras Protokol Kesehatan, Proses Belajar Tatap Muka Perlu Dikaji Ulang


Banjar - Bersama para SKPD Kota Banjar, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Banjar menggelar rakor di ruang rapat Disdikbud Banjar, Kamis (13 Agustus 2020).

Rakor tersebut guna mengkaji ulang kesiapan sarana dan prasarana proses belajar tatap muka di Kota Banjar.

Dalam kesempatan itu, Sekretaris Gugus Tugas Kota Banjar, Edi Herdianto mengatakan bahwa proses belajar tatap muka di Kota Banjar perlu kaji ulang. Karena masih minimnya fasilitas Sarpras penunjang protokol kesehatan di sekolah.

Ditambahkan Edi, sebetulnya sebelum pelaksanaan pembelajaran tatap muka itu dilaksanakan juga ada beberapa prosedur yang harus ditempuh.

Misalnya, tenaga pendidik yang mengajar berusia di bawah 45 tahun, guru yang mengajar harus diswab, pihak sekolah harus membentuk Satgas Covid-19 serta beberapa persyaratan lainnya.

"Masih banyak kekurangan yang belum dilengkapi termasuk pemeriksaan swab kepada tenaga pendidik juga belum dilakukan. Jadi perlu dipertimbangkan lagi,” jelasnya.

Sementara itu,  Kepala Dinkes Kesehatan Kota Banjar, Herman Umar menyarankan agar sebelum diberlakukan kebijakan belajar tatap muka di sekolah semua fasilitas pendukung harus sudah dilengkapi.

“Virus Corona merupakan penyakit kerumunan. Sehingga, membutuhkan kedisiplinan tinggi dalam menerapkan protokol kesehatan sebagai upaya pencegahan,” jelasnya.

Muncul adanya kluster baru penyebaran virus Covid-19 di beberapa daerah yang terjadi di lingkup kantor pemerintahan dan lembaga pendidikan, Ia menilai karena minimnya tingkat kesadaran dari masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatannya. "Bisa dikatakan itu masih rendah," jelasnya.

Menyikapi hal tersebut, Ia menyarankan sebaiknya fasilitas itu dilengkapi dan disiapkan dengan matang. Kalau di lingkup perkantoran saja bisa terjadi penyebaran virus apalagi ini menyangkut lembaga pendidikan dasar yang peserta didiknya masih anak-anak.

Sementara Kepala Bidang Dikdas Kota Banjar, Ahmad Yani mengakui masih banyak sekolah yang belum siap jalani proses belajar tatap muka karena terkendala sarpras protokol kesehatan.

Dinilainya, beberapa fasilitas penunjang protokol kesehatan masih belum dilengkapi. Seperti ketersediaan masker untuk peserta didik, alat pengukur suhu tubuh atau thermo gun, penyemprotan cairan disinfektan serta penyediaan hand sanitizer.

Selain itu, belum ada rapat koordinasi dengan pihak sekolah. Terutama untuk menentukan kurikulum atau sistem belajar yang akan digunakan. Apalagi mengingat jam belajar secara tatap muka waktunya terbatas.

“Sampai saat ini kami belum bisa memastikan kapan akan diberlakukannya sistem belajar tatap muka karena masih banyak yang harus dilengkapi,” terang Yani.

Menurutnya, kendala belum lengkapnya sejumlah fasilitas tersebut karena ketersediaan anggaran dari penggunaan dana BOS sangat terbatas sehingga tidak bisa mencukupi.

"Kami sudah upayakan ke Pemkot untuk pengajuan anggaran sebesar 2 M lebih tinggal menunggu proses pencairan,” jelasnya.//heru.