• News
  • Menilik Muharam 1442 H Di Pesisir Selatan

Menilik Muharam 1442 H Di Pesisir Selatan


Sura atau Muharram adalah bulan yang sangat disakralkan bagi masyarakat Jawa, pada umumnya dibulan inilah segala tradisi dan budaya digelar.

Hanya hari-hari tertentu saja, seperti Selasa Kliwon ataupun Jumat Kliwon masyarakat menggelar hajat besar. Hajat ini lazim disebut dengan istilah sedekah.

Bagi masyarakat yang hidup di pedesaan dan pegunungan, mereka akan menggelar ritual sedekah bumi. Begitu juga dengan masyarakat pesisir yang menggelar ritual sedekah laut.

Disisi lain, Sura juga dianggap sebagai sukertaneng tahun. Ada larangan-larangan yang diyakini akan membawa petaka jika dilanggar.

Namun demikian, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Sura yang menurut kalender Jawa ABOGE jatuh pada hari Jumat Wage 21 Agustus 2020 lalu ini oleh sebagian sesepuh maupun praktisi spiritual dirasa banyak kejanggalan.

"Rasane aneh, sepi tidak ada petunjuk sama sekali dari Yang Maha Kuasa yang disampaikan melalui para leluhur," kata Mbah Atmo ketua nelayan pandanarang seusai melakukan ritual nyekar di Karang Bandung Nusakambangan baru-baru ini.

Sedangkan, lanjutnya, petuah atau petunjuk tersebut bagi keyakinan masyarakat pesisir sangatlah penting karena menyangkut dengan kelangsungan hidup untuk satu tahun kedepan.

Hal senada juga disampaikan oleh Ki Panca Bumi Mataram seorang praktisi spiritual asal Penggalang Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap.

Ia menyampaikan, sedekah laut yang dilakukan dengan cara larungan jolen (sesembahan) merupakan mement penting yang ditunggu-tunggu oleh pelaku kejawen.

"Apakah alamnya yang berubah apa karena pandemi ini, yang pasti larungan kali ini rasanya hampa," jelas Ki Panca.

Ia juga menjelaskan ibarat orang bertamu, saat larungan kemarin sama sekali tidak ada sambutan dari sang tuan rumah.

"Kita tidak tahu apa yang terjadi, tapi yang pasti kasepuhan kejawen dan para praktisi spiritual saat ini seperti sedang nangis batin," katanya.//ipung