• News
  • Makam Ki Ageng Soeleman, Salah Satu Tokoh Pendiri Masjid Agung Banyumas

Makam Ki Ageng Soeleman, Salah Satu Tokoh Pendiri Masjid Agung Banyumas


Ki Ageng Soeleman adalah salah satu tokoh pendiri Masjid Agung Banyumas. Ia hidup sezaman dengan Adipati Yudhanegara II, atau Adipati Banyumas ke-7. 

Bertempat di komplek pemakaman Dawuhan, Makam Ki Ageng Soeleman ini berada. Ia bersebelahan dengan makam sang istri yaitu Nyi Ageng Soeleman. Sedangkan tidak jauh di bawahnya, terdapat enam makam keturunannya.

Memang tidak ada yang tahu pasti sejarah dan asal usulnya, namun semasa hidupnya Ki Ageng Soeleman dikenal sebagai tokoh penyiar agama Islam.

"Tidak tau pasti, tapi menurut cerita beliau sebagai Khatib dan Imam di Mesjid Agung Banyumas," ucap juru kunci 1, Mbah Hadi Waluyo saat ditemui dikediamannya, Senin (5 Januari 2021) kemarin.

Mah Hadi menuturkan, kendati asal usulnya tidak diketahui, tetapi kalau merujuk pada tata cara dan tradisi pemakaman Jawa, Ki Ageng Soeleman bisa dipastikan mempunyai garis keturunan dengan salah satu makam tua yang ada di area tersebut.

Menurutnya, Makam Dawuhan memang dikenal dengan kompleks pemakaman adipati-adipati Banyumas, tapi di makam ini juga juga diyakini ada makam-makam Waliyullah, salah satunya adalah Kiai Lambak.

"Di tradisi jawa, biasanya yang paling tua itu ditempatkan di paling barat. Sedangkan di komplek makam ini yang posisinya paling barat itu makamnya Kiai Lambak yang menurut cerita, beliau Waliyullah yang pertama kali melakukan siar Islam di Banyumas," terangnya.

Sebagai tokoh penyiar agama Islam, Ki Ageng Soeleman juga diyakini turut berperan dalam pembangunan Masjid Agung Banyumas.

Menurut Juru Pelihara Masjid Agung Nur Sulaiman BP3 Jateng Djoni Muhammad Farid, peran Ki Ageng Soeleman adalah membantu Nurdaiman yang merupakan  arsitek sekaligus demang asal Gumelem.

Bahkan untuk mengenangnya, pada tahun 1992, namanya dipakai untuk nama Masjid Agung Banyumas.

"Sebelumnya Masjid Agung Banyumas, dan pada tahun 1992, nama Masjid Agung Banyumas diganti menjadi Masjid Agung Nur Sulaiman," kata Djoni.

Ia mengatakan, nama Nur berasal dari nama arsitek pembangun masjid yaitu Nurdaiman. Sedangkan nama Sulaiman diambil dari penyiar agama yang berdakwah di Masjid Agung, yaitu Ki Ageng Soeleman.

Masjid tersebut diperkirakan dibangun tidak lama setelah pembangunan Pendopo Sipanji oleh Raden Tumenggung Yudhonegoro tahun 1755.//ipung