• News
  • Kudhi Tarung Karo Karaeh, Zaman Penuh Perselisihan

Kudhi Tarung Karo Karaeh, Zaman Penuh Perselisihan


Kudhi Tarung Karo Karaeh, merupakan sebuah ungkapan para pinisepuh Banyumas pada zaman dahulu. Sebuah ungkapan sederhana namun mengandung makna sangat mendalam baik secara tekstual maupun kontsekstual yang sarat dengan nilai-nilai filosofis, historis, estetis dan futurologi.

Ungkapan Kudi Tarung Karo Karaeh adalah sebuah gambaran akan adanya zaman penuh dengan perselisihan, baik perselisihan antar saudara, rakyat dengan rakyat hingga perselisihan rakyat dengan pemimpinnya.

Seperti disampaikan Mulyono Harsosuwito Putra (kang Mul) Pemerhati Budaya sekaligus Ketua Institut Studi Pedesaan dan Kawasan asal Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng baru-baru ini.

Menurutnya, di zaman tersebut yang dicari adalah sebuah kemenangan, entah salah atau benar itu urusan belakang, yang terpenting mampu melakukan perlawanan dan menunjukkan keberaniannya tanpa memandang unggah-ungguh (etika) demi ambisinya.

Di Banyumas, yang menjadi titik awal populernya ungkapan Kudhi Tarung Karo Karahe yaitu ketika terjadinya peristiwa perselisihan antara Bupati Banyumas R Tmg Tjakranegara II (1864 - 1879 M) dengan Residen C De Mooenburh pada tahun 1878.

Bupati Banyumas R Tmg Cakranegara II memlih mengundurkan diri dari jabatan bupati karena merasa kecewa dengan sikap dan kebijakan  Residen Banyumas C De Mooenbugrh.

Akhirnya Bupati Banyumas R Tmg Tjakranegara II mengasingkan diri bermukim di daerah Gendayakan (sekarang wilayah Desa Pasinggangan) dan terkenal dengan sebutan Kyai Gendyakan sampai wafatnya.

Posisi Bupati Banyumas yang ditinggalkan R Tmg Tjakranegara II diisi oleh Bupati Purwokerto R Adipati Martadirdja III, Pada saat itu Banyumas dan Purwoketo masing-masing berdiri sendiri menjadi Kabupaten.

Pindahnya Bupati Purwokerto R Adipati Martadirdja III menjadi Bupati Banyumas menjadi kisah sejarah munculnya ungkapan Kudhi Ilang Karo Karahe.//ipung