• News
  • KKP Sulap Jajanan Pasar Jadi Olahan Ikan Bergizi

KKP Sulap Jajanan Pasar Jadi Olahan Ikan Bergizi


TABLOIDPAMOR.com, JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sukses memperkenalkan fortifikasi  dalam bentuk hidrolisat protein ikan (HPI) ke dalam jajanan pasar dan camilan sehari-hari.  Selain menjadi cara baru mengonsumsi ikan, implementasi HPI dalam jajanan bertujuan untuk meningkatkan asupan protein masyarakat sekaligus mendorong hilirasi perikanan.

"Harganas jadi kesempatan bagi kita untuk mengenalkan cara baru mengonsumsi ikan, yakni melalui fortifikasi jajanan pasar dengan HPI," terang Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Budi Sulistiyo melalui keterangan tertulis yang diterima tabloidpamor.com, Kamis (4 Juli 2024).

Budi memaparkan asupan protein Indonesia masih tertinggal dibanding negara maju. Berdasarkan data yang dihimpun jajarannya, asupan protein Tiongkok sebesar 121,7 gram/kapita/hari, kemudian Amerika Serikat 109,6; Norwegia 101,2; Vietnam 94,3; Malaysia 89,1; Thailand 66,5 dan Kamboja 63,6 gram/kapita/hari.

"Sementara Indonesia tercatat baru 62,3 gram/kapita/hari. Marilah kita gelorakan peningkatan asupan protein masyarakat dari 62 gram/kapita/hari menjadi > 100 gram/kapita/hari berbasis ikan untuk mewujudkan Generasi Emas Indomesia," kata Budi.

Budi mengatakan, penggunaan HPI dalam jajanan pasar, seperti kue bolu kukus, kue sus, kue talam, sosis solo, cookies hingga cilok hampir tak mengubah rasa aslinya, serta membuat makanan tersebut lebih bergizi.

Misalnya dengan menambahkan 5-20 gram HPI kedalam 100 gram adonan produk menghasilkan kandungan gizi sebagaimana berikut; Cilok, kalori 126 kkal, protein 5,07 gram, dan lemak 3,72 gram. Kue bolu kukus , kalori 250 kkal, protein 5 gram, dan lemak 3 gram. Kemudian kue sosis solo, kalori 300 kkal, protein 10 gram, dan lemak 15 gram. Kue talam,  kalori 250 kkal, protein 5 gram, dan lemak 7 gram, serta kue sus,  kalori 300 kkal, protein 6 gram, dan lemak 18 gram.

"Kandungan ini sudah teruji di BBP3KP (Balai Besar Pengujian dan Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan)," tutur Budi.

Budi berharap fortifikasi HPI semakin populer karena penggunaannya bisa memberikan multiplier effect seperti serapan ikan nelayan, logistik, hingga membuka lapangan kerja. "Dengan HPI, kita jadi tak kuatir lagi dengan jajanan anak, selain mendorong hilirisasi perikanan," ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Budi menyebut inovasi fortifikasi HPI ini pun diapresiasi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, saat berkunjung ke booth KKP pada peringatan Harganas, Sabtu 29 Juni 2024.

Selain itu, pada saat Gemarikan di Keraton Yogyakarta, Kamis 27 Juni 2024, Raja sekaligus Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X juga berharap inovasi ini terus dikampanyekan ke masyarakat agar bisa menjadi bahan tambahan pangan seperti snack, cemilan dan lain sebagainya.

"Alhamdulillah fortifikasi HPI mendapat apresiasi karena pemanfaatannya bisa membuat masyarakat menjadi lebih nyaman dan mudah dalam memenuhi asupan protein dari ikan, lewat konsumsi berbagai santapan yang telah familiar dalam kehidupan sehari-hari," tutupnya.

Sebagai informasi, peringatan Harganas berlangsung selama 3 hari, 27 - 29 Juni di Lapangan Simpang Lima, Semarang. Selain mengenalkan jajanan dengan fortifikasi HPI, KKP juga menggelar demo masak jajanan tersebut melalui mobil alih teknologi dan informasi (ATI) yang berada di area luar pameran.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono bicara tentang program makan siang bergizi gratis yang rencananya akan diimplementasikan di masa kepemimpinan presiden terpilih 2025-2029 Prabowo-Gibran. Ia mengusulkan agar ikan menjadi salah satu menu yang diusung dalam program tersebut.

Menteri Trenggono mengatakan, penerapannya bisa dilakukan secara tematik. Sejumlah wilayah di Indonesia memiliki ikan sebagai komoditas unggulannya. Hal ini bisa menjadi salah satu potensi untuk mendorong konsumsi ikan di Tanah Air.//yuli.