• News
  • Keraton Agung Sejagat, Fenomena di Zaman Kalabendu?

Keraton Agung Sejagat, Fenomena di Zaman Kalabendu?


Kemunculan Keraton Agung Sejagat dengan rajanya Sinuwun Totok dan Kanjeng Ratu Dyah Gitarja sebagai permaisurinya sontak menjadi perbincangan publik, kemunculan yang ditandai dengan prosesi wilujengan dan kirab budaya menjadi bukti bahwa Sinuwun Totok sangat yakin dan percaya diri dengan apa yang dipertontonkan saat itu. Betapa tidak, Sinuwun mengerahkan ratusan punggawa, panji-panji kerajaan, belasan kuda yang ditunggangi raja dan ratu serta pejabat senior setingkat resi dengan tanda pangkat bintang empat di pundak.

Mimpi itu pun terwujud, Sinuwun Totok dan Kanjeng Ratu Dyah Gitarja menjadi sangat terkenal dengan kerajaannya yang bernama “Keraton Agung Sejagat”. Hal ini membuktikan bahwa bisikan gaib yang diterima Sinuwun benar adanya, meskipun hanya semalam setelah diketahui publik. Entah sebelumnya apakah Sinuwun (TS) dan Kanjeng Ratu (FA) pernah melakukan ritual disuatu tempat dengan permohonan menjadi raja dan ratu, tentu hanya merekalah yang tahu. Tetapi, mengerahkan orang dalam jumlah ratusan bukan perkara mudah apalagi tanpa imbalan malah mewajibkan membayar iuran yang jumlahnya tidak sedikit. Tanpa adanya campur tangan dari kekuatan lain, hal itu mustahil terwujud.

Ora Eling (tidak sadar) 

Wilujengan dan kirab yang diikuti ratusan orang itu menjadi tontonan yang menggelikan tentunya bagi mereka yang eling (sadar). Padahal para punggawa Sinuwun Totok ini berasal dari beragam profesi yang mestinya punya rasa malu terlibat dalam urusan raja-rajaan seperti itu apabila mereka eling (sadar). Sayangnya mereka baru sadar setelah Sinuwun dan Kanjeng Ratu diamankan polisi.

Menurut Ketua Umum Paguyuban Kerabat Mataram (PAKEM) Pusat KP. Panji Hargo Kusumo Yatmantodiningrat, fenomena yang terjadi terkait kemunculan Kraton Agung Sejagat merupakan sebuah peringatan bagi pelaku spiritual dan budaya agar berfikir cerdas tanpa meninggalkan hati nurani dalam menerjemahkan wangsit (bahasa leluhur), karena salah sedikit saja akan berakibat fatal.

Wangsit itu sanepa, makanya kita tidak boleh menelan mentah-mentah. Harus diterjemahkan,” ucapnya saat ditemui PAMOR dikediamannya, Jumat (17 Januari 2020) lalu.

Selain itu, menurutnya, kemunculan Keraton Agung Sejagat (KAS) ini juga akibat pengertian salah kaprah akan ramalam akhir zaman tentang kemunculan Satrio Piningit yang dipercaya akan membawa keadilan dan kemakmuran bangsa. Sedangkan yang dimaksud Satrio Piningit sesungguhnya bukanlah sosok, melainkan kesadaran yang muncul dari hati nurani masing-masing orang.

“Yang terjadi sekarang itu istilahnya wolak walik legok seser, waras ya ora waras, (ibarat seser meskipun dibolak-balik tetap bisa dipakai, sehingga sulit membedakan mana yang salah dan yang benar). Itulah satu pertanda di zaman Kalabendu.” pungkasnya.//IP