• News
  • Kawanan Monyet di Masjid Keramat

Kawanan Monyet di Masjid Keramat


Masjid Saka Tunggal yang menjadi bukti sejarah masuknya Islam di Tanah Jawa khususnya tlatah Banyumas memiliki keunikan tersendiri, bangunan masjid dengan satu saka utama dan empat saka penyangga awalnya menggunakan atap berbahan ijuk dengan mustaka dibagian ujung atasnya. Mustaka berbahan kayu nangka ini sudah beberapa kali diganti, untuk membuat mustaka membutuhkan bahan kayu nangka dengang ukuran 40 x 40 cm dan panjang 60 cm. Setidaknya dari tahun 50 an sampai sekarang sudah dua kali mustaka diganti.

Dari cerita Mbah Sopani (77) kepada Pamor, Jumat (6 Agustus 2021). Bahwa sekitar tahun 90 an mustaka itu pernah jatuh dan tersangkut di talang setelah kawanan monyet merusaknya, beruntung mustaka tidak sampai jatuh ke tanah. Masjid di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas ini memang dikenal dengan kawanan monyetnya yang kerap merampas barang bawaan pengunjung terutama yang memakai kantong plastik.

Keberadaan kawanan ini seolang menjadi bagian dari kontrol alam yang menuntut adanya perubahan, seperti yang terjadi pada atap masjid yang awalnya berbahan ijuk kemudian mengalami beberapa kali perubahan setelah dirusak kawanan itu hingga akhirnya diganti dengan bahan seperti sekarang ini. Masih menurut cerita Mbah Sopani kawanan monyet itu mulai beringas sejak awal 80 an, sebelumnya tidak pernah terjadi bahkan di era 70 an tanaman pisang dengan buahnya yang sudah matang pun tetap utuh tidak tersentuh monyet apalagi sampai menjarah.

Hal ini kemungkinan terjadi karena kawasan hutan disekitar masjid masih banyak ditumbuhi tanaman lantoro atau mlanding yang konon sebagai makanan utama monyet sebelum manusia mengubahnya. Kawanan monyet semakin beringas setelah kedatangan para peneliti monyet dengan senapan biusnya membawa belasan monyet untuk kepentingan penelitian.

Ada pemandangan menarik terkait monyet di Cikakak yang takut dengan ban bekas roda motor, jangan heran jika berkunjung ke Masjid Saka Tunggal akan menjumpai ban bekas yang bergelantungan. Selain ban motor monyet juga takut dengan anjing dan senapan angin, tapi tidak dengan senapan aparat meskipun ada kesamaan larasnya yang panjang. Kemungkinan kawanan itu paham dengan aparat yang kehadirannya untuk mengamankan bukan memburu, seperti biasa setiap hari besar Agama Islam (dalam penanggalan Aboge) baik TNI maupun POLRI setempat selalu hadir untuk menjaga keamanan, kenyamanan, dan ketenangan beribadah.

Masjid Saka Tunggal mempunyai keterkaitan dengan ajaran kaki nini suatu ajaran yang dianut oleh masyarakat sebelum masuknya Islam, Demikian menurut salah seorang sesepuh adat di Jatilawang kepada Pamor, Rabu (26 Mei 2021) lalu. Keterkaitan itu disimbolkan dengan keberadaan mustaka dan atap ijuknya, konon masjid inilah yang dikenal dengan Masjid Keramat. //sp.