• News
  • Joko Srono Putrane Raden Joko Kaiman

Joko Srono Putrane Raden Joko Kaiman


“Joko Srono.” Demikian orang menyebutnya, sesaat setelah melihat sebuah tabet (makam) berupa gundukan tanah berbentuk persegi dengan batu yang tersusun rapi sebagai dindingnya. Siang itu, Jumat (10 September 2021) di Kompleks Makam Mbah Jombor di Grumbul Jombor, Desa Cipete, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.

Dilihat dari bentuknya bisa dipastikan bukan dari kalangan biasa meskipun tidak ada cerita tutur yang menyertainya. Hanya sebuah kalimat yang disampaikan secara turun temurun dari juru kunci pertama hingga sekarang yang ke delapan, kalimat itu adalah “Makame Joko Srono, putrane Raden Joko Kaiman adipati Banyumas.” (Makamnya Joko Srono, putranya Raden Joko Kaiman Adipati Banyumas). Kata Ki Dasuki (60), juru rawat Kompleks Makam Mbah Jombor, kepada Pamor.

Bentuk makamnya yang persegi dan tinggi tentu menarik perhatian orang yang hendak berziarah ke makam Mbah Jombor, makam itu juga terlihat jelas dari area parkir depan mushola bila kita melihat ke arah bukit tempat makam Mbah Jombor berada. Bukit yang rindang dengan jalan berundaknya yang membelah kedua sisi itu banyak ditumbuhi pepohonan khas hutan yang melengkapi keindahan kompleks wisata religi ini.

Joko Srono di area makamnya mungkin tidak disertai cerita tutur, tetapi di luar area itu ada sedikit cerita yang berkembang di masyarakat tentang Joko Srono yang memilih menjadi ulama untuk mensyiarkan Islam, bukan umara seperti ayahnya (Raden Joko Kaiman) menjadi Adipati Banyumas. Untuk itulah Raden Joko Srono belajar ilmu agama pada Mbah Jombor dan menjadi murid utamanya yang mendapat gelar Syekh Abdulsalam. // ipung.