• News
  • JELANG PANEN RAYA, KADES SOKAWERA KEMBALI ANGKAT TRADISI MIMITI

JELANG PANEN RAYA, KADES SOKAWERA KEMBALI ANGKAT TRADISI MIMITI


Purbalingga - Mimiti merupakan budaya tradisional yang diadakan menjelang panen raya. Tradisi ini diadakan hampir di setiap daerah di nusantara, terutama di Pulau Jawa baik suku Jawa maupun suku Sunda, sudah biasa mengadakan tradisi ataupun adat ini karena merupakan warisan leluhur yang perlu dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap Dewi Sri (Dewi Padi).

Menjelang panen raya kali ini, tradisi mimiti digelar di Dusun dua, Desa Sokawera, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Kamis (1 Oktober 2020). 

Kepala Desa Sokawera, Badrun mengangkat kembali tradisi ini didesanya dikarenakan ingin melestarikan budaya tradisional dan menjaga nilai-nilai luhur warisan budaya.

Menurut dia, tujuan utama tradisi ini adalah mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha kuasa yang telah memberikan limpahan nikmat. Diharapkan para petani saat panen padi musim ini dan seterusnya mendapatkan hasil yang melimpah.

"Tradisi ini kami adakan untuk rasa syukur kami terhadap Allah SWT yang telah memberikan hasil yang melimpah dan dari hasil panen tersebut tak lupa kami disisihkan  untuk zakatnya," ungkap Kades yang mantan Pensiunan Kepala Telkom Sokaraja tersebut.

Guru Besar Fakultas Pertanian Unsoed. Prof. Ir. H. Totok Agung Dwi Haryanto. M.P. P.hD. dalam acara tersebut mengatakan, Kegiatan ini mengembalikan budaya nusantara untuk spirit meningkatkan produksi pertanian tetapi tidak hanya produksi saja tetapi  kesejahteraan dan kebahagiaan batin.

"Disamping melestarikan warisan leluhur, juga untuk meningkatkan produksi pertanian demi mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan batin," katanya.

Dia menambahkan, "hasil pertanian yang selama ini menurun di sebabkan karena banyak menganggap pertanian itu soal produksi dan tekhnologi saja, jadi kita mudah-mudahan bisa terus mengawal dan mendampingi agar kegiatan semacam ini terus berlanjut," ungkap sang profesor itu.

Sementara Budayawan Purbalingga, Agus Sukoco menyampaikan, kita akan menemukan Indonesia dan Jawa dan Nusantaranya kembali, "karna Indonesia tidak bisa lepas dari pertanian," Katanya.

Orang Jawa selalu memposisikan para leluhurnya sebagai pihak yang hidup, maka ada interaksi dialog batin antara manusia Jawa, petani dengan alam yang kemudian berujung pada ritual-ritual salah satunya wiwiti atau wiwitan itu.

"Mimiti ini bisa dimaknai dialog batin antara Petani dan Alam, karena Manusia Jawa itu memperlakukan alam bukan sebagai obyek yang mati," katanya.

Ritual pertanian bukan sekedar profesi yang berorientasi pada profit ekonomi  semata, akan tetapi ia semacam thorekoh didalam diri manusia untuk menemukan Tuhannya yang melalui aktivitas pertanian. Ini bukan syirik, orang Jawa mampu memposisikan alam sebagai sesuatu yang hidup.

"Mimiti ini bukan sekedar berorientasi pada profit ekonomi semata, namun petani jawa mampu memposisikan alam sebagai sesuatu yang hidup," jelasnya. 

Dewi Sri merupakan sosok dewi bidadari yang oleh orang Jawa pada saat ritual wiwita menyediakan bedak dan alat kecantikan, biasanya dilengkapi itu ini bukan kepada jin bukan kepada apa, tapi bahasa orang Jawa untuk menghormati padi sebagai faktor penting dalam hajat hidup manusia.

"Dewi Padi atau Dewi Sri dalam tradisi ritual wiwitan oleh orang jawa dulu selalu ada sesaji berupa peralatan make up tapi bukan kepada jin atau kepada apa namun menghormati padi sebagai hajat pokok manusia," ungkapnya dengan penuh pemahaman.

Bagi budayawan tersebut,  petani bukan wong cilik, petani itu merupakan wong agung lebih besar dari profesi apapun.

"Tetapi hari ini (era ini,red) ada kedurhakaan peradaban dimana petani diposisikan secara marginal, petani dianggap sebagai orang kaum bawah," tuturnya.

Mudah-mudahan dengan adanya pemerintah disini, ada akademisi disini, agamawan disini cepat atau lambat petani kita posisikan sebagai IBU-nya peradaban yang paling tinggi dan harus dihormati umat manusia.//MN