• News
  • Jaga Tradisi Leluhur, Upacara Nyangku di Gelar di Nusa Gede Situ Lengkong Panjalu

Jaga Tradisi Leluhur, Upacara Nyangku di Gelar di Nusa Gede Situ Lengkong Panjalu


Ciamis - Masyarakat Panjalu yang berada di wilayah Kabupaten Ciamis bagian utara ini kembali menggelar tradisi budaya "Nyangku", pada Senin (1 November 2021). Tradisi Nyangku Tahun ini berbeda dengan sebelumnya, dimana pelaksanaannya di pusatkan di Nusa Gede atau Pulau yang berada di tengah Situ Lengkong Panjalu Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Pada tahun sebelumnya selalu dilakukan di Taman Borosngora atau Alun Alun Panjalu. Nyangku sendiri merupakan rangkaian prosesi adat penyucian benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora yang tersimpan di Pasucian Bumi Alit.

Tradisi diawali dengan mengeluarkan benda pusaka berupa pedang, keris dan lainnya dari Museum Bumi Alit. Kemudian diarak dengan cara digendong oleh para keturunan Raja Panjalu dan warga terpilih. 

Setelah itu diseberangkan menggunakan perahu ke Nusa Gede Situ Lengkong Panjalu. Disana terdapat makam Raja Panjalu dan tokoh kerajaan Panjalu. Setelah seluruh pusaka yang dibawa telah selesai di cuci, kemudian diarak kembali ke tempat Pasucian Bumi Alit.

Prosesi pembersihan menggunakan 9 mata air dari berbagai daerah. Mulai dari mata Air Situ Lengkong, Mata Air Karantenan Gunung Sawal, Mata Air Kapunduhan (Makam Prabu Rahyang Kuning), Cipanjalu, Kubang Kelong, Pasanggrahan, Bongbang kancana, Gunung Bitung dan sumber air Ciomas, ditambah jeruk nipis.

Secara simbolis ada 5 benda pusaka yang dibersihkan di Nusa Gede Situ Lengkong Panjalu. Salah satunya yakni pedang pemberian Sidina Ali kepada Prabu Borosngora yang dinamai Zulfikar, Kujang Panjalu dan Keris Stokkomando.

"Makna Nyangku adalah Maulid Nabi Muhammad SAW, karena ini bertepatan dengan Maulid Nabi. Tradisi ini dilaksanakan juga untuk mengenang jasa Prabu Sanghyang Borosngora dan Raja Panjalu yang sudah memeluk agama Islam dan menyebarkan ajarannya di Panjalu," tutur Pengurus/Bendahara Yayasan Borosngorai Dr. H. Heri Solehudin Atmawiidjaja, M.M., kepada awak media sebelum mengikuti arakan pusaka dari Nusa Gede ke Pasucian Bumi Alit.

Dr. H. Heri Solehudin mengungkapkan tradisi Nyangku kali ini digelar secara sederhana, namun tidak mengurangi antusiasme masyarakat. Tentunya tetap secara ketat menjalankan protokol kesehatan. Tradisi tetap dilaksanakan secara khidmat hanya tempatnya yang berbeda.

Sementara itu, Bupati Ciamis H. Herdiat Sunarya yang hadir mengikuti prosesi pencucian benda pusaka Prabu Sanghyang Borosngora mengatakan, Nyangku adalah warisan budaya leluhur Ciamis. Sehingga sebagai penerus harus dirawat dan dilestarikan. 

"Mari bersama sama Pemkab Ciamis dan warga merawat memelihara budaya warisan kita semuanya. Ini sudah ada ratusan tahun lalu, harus kita rawat sehingga bisa menjadi daya tarik masyarakat luar daerah untuk datang ke Panjalu," katanya. 

H. Herdiat pun mengatakan ada 7 budaya Ciamis yang termasuk dalam warisan budaya tak benda (WBTB) salah satunya Tradisi Nyangku. Yang lainnya adalah Ngikis, Misalin, Nyuguh, Merlawu, Ronggeng Gunung dan Bebegig.  

"Ini bukti kecintaan kita. Yang sudah mewarisakan budaya yang harus kita rawat," pungkasnya.//yuli.