• News
  • Hidup dari mengolah ban bekas, untuk dijadikan barang yang pantas

Hidup dari mengolah ban bekas, untuk dijadikan barang yang pantas


Gemuruh suara bising dengan berlalu lalangnya kendaraan yang melintas, membuat ramai kehidupan siang kala itu, sengat terik yang menyengat tak sempat dirasa, hingga kuda besi ini menepi disebuah tempat teduh sekadar untuk menghilangkan lesu.

Tak jauh dari tempat itu, terlihat seorang pria tengah mengambil beberapa gulungan karet hitam yang merupakan sisa bahan baku dari ban bekas untuk diolah. Ban bekas yang sebagian masyarakat memandang sebagai barang sisa dan tak berguna ini, olehnya dapat disulap menjadi barang yang bernilai harganya.

Ialah Parman (49), pria warga Cilongok, Banyumas merupakan pengrajin ban bodol (bandol-red) atau ban bekas yang kemudian diolah untuk dijadikan tempat kerajinan tangan di Desa Banaran, Kecamatan Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas.

Pekerjaan yang digelutinya sudah lama ia lakukan, meski usianya sudah hampir menginjak setengah abad, sebagai karyawan ditempatnya ia bekerja tak pernah menyurutkan dirinya untuk tetap berkarya.

Saat ditemui tabloidpamor.com, Parman menceritakan kisah perjalanan hidupnya. Dirinya mengaku sejak lulus sekolah dasar 35 tahun yang lalu sudah bekerja sebagai karyawan dalam mendaur ulang bandol untuk dijadikan barang kerajinan seperti sandal, kursi, tempat sampah dan beragam kerajin lainnya.

Meskipun penghasilannya hanya Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu perhari, bapak 3 anak ini senantiasa mensyukuri rejeki yang diperolehnya dan tidak pernah pantang menyerah dalam menghidupi keluarga.

"Gaweane dinikmati bae,aja digawe susah, pokoke happy ending, sing penting tulus karo ikhlas,” ujarnya sembari  beliau sibuk mengerjakan kerajiana dari bandol.

Bagi sebagian orang bandol memang tidak dilirik, namun dari tangan terampil Parman, bandol tersebut menjadi barang yang berguna dan menghasilkan rupiah.

Tidak hanya Parman yang hidupnya bergantung dengan bandol. Salipah (50) sebagai pemilik usaha aneka kerajinan bandol itupun ikut merasakan rejeki hasil kerajinan yang dirintis oleh keluarganya sejak tahun 1986 yang silam.

Sementara menurut Salipah, bahan baku berupa ban bekas untuk kerajinan bandol, ia peroleh dari Jakarta. Sedangkan untuk pemasaran barang kerajinannya selain di pasarkan di kiosnya, ia juga memasarkan melalui media online. Peminatnya pun tidak hanya lokalan di Banyumas saja bahkan merambah hingga ke luar provinsi seperti Pulau Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan daerah lainnya.

Kendati demikian, untuk pengambilan bahan baku bandol, dirinya mengaku tergantung dengan adanya modal, apalagi ditengah adanya wabah saat ini juga menjadi kendala dalam usahanya.

"Disyukuri saja, dibalik wabah ini, pasti ada kemudahan dan juga jalan rezeki, karena Yang Maha Kuasa menguji tidak akan melewati kemampuan umatnya," tuturnya.//Iwon.