• News
  • Dorong Pemulihan Ekonomi, KKP Gelar Lima Pelatihan Teknis Bagi Masyarakat Kelautan dan Perikanan

Dorong Pemulihan Ekonomi, KKP Gelar Lima Pelatihan Teknis Bagi Masyarakat Kelautan dan Perikanan


Jakarta - Komitmen pemerintah Indonesia untuk membangkitkan perekonomian rakyat terus ditunjukkan melalui berbagai langkah nyata. Salah satunya dengan upaya peningkatan kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia. Untuk itu, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar lima pelatihan daring sekaligus.

Pelatihan tersebut adalah pelatihan pembuatan fish samosa, iodisasi garam dan pengemasan, pengaplikasian fiberglass untuk usaha perikanan, pembuatan bubu lipat, serta perawatan dan perbaikan sistem pengapian motor tempel. Kelima pelatihan ini dibuka secara serentak oleh Kepala BRSDM, Sjarief Widjaja.

Pelatihan pembuatan fish samosa diselenggarakan oleh Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Medan dan diikuti oleh 1.209 peserta berbagai profesi yang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia. Sedangkan pelatihan iodisasi garam dan pengemasan dilaksanakan oleh BPPP Banyuwangi dengan 520 peserta. Adapun pelatihan pengaplikasian fiberglass untuk usaha perikanan diadakan oleh BPPP Bitung dan diikuti 545 peserta.

Sementara pelatihan pembuatan bubu lipat dan pelatihan perawatan dan perbaikan sistem pengapian motor tempel masing-masing diselenggarakan oleh BPPP Tegal dan BPPP Ambon dan diikuti oleh 1.220 dan 312 peserta.

Dengan demikian, pelatihan yang diselenggarakan dalam satu hari tersebut telah melibatkan 3.806 masyarakat kelautan dan perikanan maupun umum yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sjarief mengatakan, pelatihan yang diberikan merupakan pelatihan keterampilan yang bersifat praktis. Tujuannya agar di tengah pandemi Covid-19 ini, keterampilan dan pengetahuan tersebut dapat diaplikasikan masyarakat untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup.

"Saya tegaskan, pelatihan ini bukan sekadar cara masak atau cara montir. Tetapi bagaimana dengan keterampilan dan pengetahuan ini, Anda bisa mengandalkan hidup dari situ," tutur Sjarief dalam keterangan persnya di Jakarta, Sabtu (27 Juni 2020).

Sjarief menyebut, setiap pelatihan yang digelar harus lengkap dari proses hulu hingga hilir. Proses hulu yang dimaksud yaitu penyiapan bahan baku.

Menurut Sjarief, peserta pelatihan harus mengetahui apa saja bahan baku yang dibutuhkan, di mana bisa memperolehnya, berapa harganya, hingga bagaimana cara menilai kualitasnya. "Anda harus memastikan bahwa material yang Anda beli adalah yang terbaik, termurah, dan bisa dijangkau jaraknya," Sjarief mengingatkan.

Selanjutnya proses pembuatan atau pengolahan. Untuk dapat menghasilkan produk yang berkualitas tinggi, peserta pelatihan harus cermat menentukan formulasi atau komposisi bahan yang digunakan berikut cermat mengikuti setiap langkah pembuatan.

Berikutnya proses pengemasan. Untuk dapat menarik minat pembeli, produk yang dihasilkan harus dikemas sebaik mungkin. Selain dihadirkan dengan tampilan menarik, produk juga perlu diberi merek dan dilengkapi label yang berisi informasi kandungan, cara penggunaan, dan informasi lainnya yang dibutuhkan.

Kemudian proses pemasaran. Agar produk yang dihasilkan dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan usaha dapat dijalankan dengan nyaman dan legal, produk hendaknya dilengkapi dengan sertifikat Standar Nasional Indonesia/SNI (khusus produk-produk tertentu yang mensyaratkan SNI), izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), maupun sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Terakhir, proses analisis usaha. Setiap usaha yang dijalankan harus terukur. Analisis dilakukan untuk mencegah kerugian pada usaha, mengetahui jasa dan produk yang dibutuhkan pasar, dan memetakan minat konsumen terhadap produk atau jasa yang kita tawarkan.

"Dengan proses yang benar, kita dapat memberikan nilai tambah bagi produk yang dihasilkan. Misalnya pada pembuatan garam. Garam krosok yang kita beli di petambak garam sebagai bahan baku untuk membuat garam konsumsi dengan garam yang sudah tersedia di meja makan, beda harganya bisa sampai 100 kali lipat," ucap Sjarief.

Tak hanya pelatihan dengan output produk, pelatihan dengan output berupa jasa seperti pelatihan perawatan dan perbaikan sistem pengapian motor tempel juga dinilai sangat bermanfaat, terutama bagi masyarakat nelayan yang hidup di daerah pesisir.

"Banyak sekali nelayan kita kalau mau membetulkan motor tempelnya pergi ke bengkel umum karena memang tidak ada bengkel khusus untuk motor tempel perahu. Kalau Anda bisa (memperbaiki motor perahu), Anda bisa buka bengkel kecil di rumah dan punya mata pencaharian baru," jelasnya.

Sementara untuk pelatihan pembuatan bubu lipat, selain untuk dijual, bubu yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan sendiri oleh masyarakat pesisir untuk menangkap kepiting atau rajungan.

"Pelatihan ini adalah pelatihan yang luar biasa dan tepat guna. Saya mohon peserta serius mengikuti ini semuanya. Mudah-mudahan apa yang kita berikan ini bermanfaat dan pada saatnya nanti Anda juga bisa mengajarkannya kepada teman-teman di sekitar Anda," tandas Sjarief.

Adapun Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) Lilly Aprilya Pregiwati mengatakan, pelatihan ini diselenggarakan melalui aplikasi e-Jaring, yaitu aplikasi pembelajaran daring perikanan. Melalui aplikasi ini, KKP menyediakan pelatihan digital dengan metode learning by doing yang memungkinkan interaksi langsung antara pesera dengan pelatih.

"Kita akan terus memberikan pelatihan yang lebih beragam. Semoga pelatihan yang kita berikan bermanfaat dan mudah dimengerti oleh peserta," tutupnya.

Pelatihan yang digelar ini juga mendapat antusiasme para peserta. Ika Kurniati, PNS asal Sibolga, Sumatra Utara misalnya. Peserta pelatihan pembuatan fish samosa tersebut mengaku senang mengikuti pelatihan yang diberikan. Ia mulai melirik fish samosa untuk dijadikan bisnis sampingan di tengah pandemi Covid-19.

Lain lagi Rustam, peserta pelatihan pembuatan bubu lipat. Nelayan asal Kabupaten Bangka Belitung ini mengaku pelatihan yang diberikan sangat bagus dan cukup mudah diaplikasikan.

"Rencana ke depan saya akan membuat bubu lipat sendiri untuk dipakai sendiri dan dijual," ujarnya antusias.

Tak kalah antusias, Irwan Ibrahim, penyuluh perikanan Kabupaten Maluku Tengah yang mengikuti pelatihan perawatan dan perbaikan sistem pengapian motor tempel menyampaikan banyak apresiasi. Irwan yang mengikuti pelatihan bersama nelayan-nelayan binaannya menyebut, dengan mengikuti pelatihan dirinya dan nelayan peserta bisa menguasai teknik perbaikan dan perawatan motor tempel.

"Ilmu ini nantinya bisa saya gunakan dan implementasikan bagi nelayan-nelayan tangkap yang kebetulan tidak sempat mengikuti pelatihan ini. Pengetahuan ini sangat penting bagi nelayan tangkap karena sebagaimana kita ketahui, masalah yang paling sering dihadapi nelayan tangkap yang mengunakan motor tempel dalam mencari ikan adalah matinnya mesin saat melaut. Dengan adanya pelatihan ini, semoga peristiwa mati mesin di laut yang berujung kecelakan dapat diminimalisir," terangnya.//yuli.