• News
  • Ditepi Sungai Kranji, Tempatku Mencari Keberkahan Rejeki

Ditepi Sungai Kranji, Tempatku Mencari Keberkahan Rejeki


Pagi yang tenang ditepi Sungai Kranji, sudah terlihat beberapa aktivitas kehidupan manusia yang menghilangkan sepi, gemricik arus sungai yang tiada henti, bagai alunan lagu bagi mereka dalam menjalani hari-hari.

Berbagai kegiatan warga sudah terlihat wara-wiri di tepi sungai ini, seperti menyapu untuk membersihkan lingkungan, memasak dan lain sebagainya. Sama halnya dengan pak Aris, ia yang sudah sedari pagi mulai bergegas menjalankan aktivitasnya mencari bahan-bahan keperluan dagangannya.

Sudah bertahun-tahun beliau menjalani kegiatan rutinitasnya, pria asal Purbalingga yang sudah lama tinggal di Purwokerto ini, mendiami sebuah kos-kosan yang terletak di tepi sungai di Jalan Jenderal Sutoyo, RT 8 RW 1, Kedungwuluwuh, Banyumas. Ia tinggal bersama keluarga kecilnya berjuang mencari keberkahan rejeki dengan menjajakan siomay.

Saat ditemui tabloidpamor.com dikediamannya, beliau sedang meracik adonan siomaynya. Sudah dari pukul 06:00 WIB, Pak Aris membeli semua bahan-bahan yang dibutuhkan, seperti ikan laut, aci, bumbu dapur dan lain-lain sebagai bahan utama dalam pembuatan siomay tersebut. Setelah bahan yang dibutuhkan dirasa sudah cukup, dengan cekatan tangan lihainya mulai meracik bahan-bahan tersebut, mengolah adonan didalam sebuah baskom hitam dengan sebaik mungkin agar terbentuk siomay yang sering dilihat orang-orang pada umumnya.

Adonan yang sudah dibentuk siomay kemudian dimasukkan kedalam panci untuk direbus  hingga matang, kemudian diangkat dan ditaruh disebuah lingkaran anyaman bambu. Tak hanya membuat adonan siomay saja, sebagai teman hidangannya pak Aris menyiapkan tahu kulit, tahu putih, gulungan kobis dan lain-lainya sebagai pelengkap siomay dagangannya.

Butuh kesabaran dan keuletan dalam membuat jajanan yang menjadi kegemaran diberbagai kalangan masyarakat itu, sekitar 3 hingga 4 jam waktu yang dibutuhkan agar jajanan itu dapat disiapkan semuanya.

Satu siomay Pak Aris yang dihargai Rp 1000 itu mulai dijajakan pada pukul 13:00 WIB siang,  ia berangkat dari rumahnya berkeliling disetiap sudut gang di wilayah Kota Purwokerto, terkadang juga dirinya mangkal ditempat-tempat yang biasa menjadi langganan pembelinya sembari mereda lelah sejenak.

Meski terkadang dalam berkeliling dagangannya tak selaris yang diharapkan, apalagi dicuaca yang sedang hujan seperti ini, tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berjualan sembari menikmati perjalanan mendorong gerobak siomay dagangannya.

“udan bae mas,kadang payu sepira ora,senenge angger lagi terang,Alhamdulillah larisan kena nggo mangan sedina” keluh bapak yang sudah menginjak usia 46 tahun ini.

Sebuah usaha walaupun sedikit harus tetap disyukuri, karena jalan rezeki sudah ada yang mengatur,tergantung kita mau melakukannya atau tidak, tetapi kita harus melakukannya dengan keikhlasan dan kesabaran, meski terlihat mudah dituturkan,tapi belum tentu mudah untuk dilakukan.

“Urip kue ora gampang,tergantung dewek gelem obah apa ora,semakin dewek berjuang semakin olih hasil sing apik,tapi sebalike nek ora gelem berjuang,ya mengkone dadi pengangguan” pesannya.

Sebagaimanapun seseorang dalam menjalani hidup, bersyukurlah dengan apa yang telah ada, ibarat roda berputar tak selamanya posisinya selalu diatas, dan bisa saja akan berada dibawah.

“Wong kue ora selamane neng duwur terus,ana titi mangsane neng ngisor,” tutup beliau. //iwon