Kamis, 30 November 2017 - 09:21:59 WIB
Kampung Naga Di Neglasari
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Budaya - Dibaca: 547 kali

Sekilas terlihat biasa saja saat memasuki area parkir kendaraan, sebuah tugu kujang yang tegak berdiri dan pada dinding disebelahnya bertuliskan "Kampung Naga" seperti tempat parkir pada umumnya dengan jajaran kios cindera mata maupun jajanan ringan. Namun, pemandangan yang sebenarnya baru terlihat saat menuruni anak tangga berbahan batu kali dan semen yang tersusun rapih sebanyak 439 anak tangga. Pemandangan alam pedesaan berupa kampung adat disebuah lembah subur berhias sawah dan sungai yang airnya mengalir diantara bebatuan. Sementara beberapa perempuan nampak sibuk menumbuk padi dengan alu dan lesung di sebuah saung dipingir kolam, alunannya semakin melengkapi suasana khas pedesaan. Senin, 27 November 2017 lalu.

Saat ini di Kampung Naga berdiri 113 rumah dengan ciri khasnya berupa panggung, berdinding kayu, beratap ijuk, dan tanpa penerangan listrik. Bukan banyaknya rumah yang dibatasi melainkan luas areanya yang oleh para leluhur hanya dibatasi 1,5 hektar saja. Masyarakat disana sangat kuat memegang adat budaya yang telah diwariskan oleh leluhurnya. Bahkan ada beberapa tempat yang dikeramatkan seperti makam leluhur, bumi ageng, dan hutan keramat. Di hutan keramat, pohon besar yang tumbang sekalipun tidak akan dimanfaatkan atau dibiarkan begitu saja hingga membusuk. Tentu hal itu bukan tanpa alasan karena kalau pohon tumbang boleh dimanfaatkan niscaya yang masih berdiri pun akan ditebang.

Keberadaan hutan keramat dapat menahan hembusan angin yang berlebihan sehingga dapat melindungi atap-atap rumah yang berbahan ijuk. Namun, terlepas dari apapun tentunya para leluhur dahulu pernah merasakan dampaknya dan mereka tidak menghendaki hal itu terjadi pada anak turunnya sebab itulah larangan itu ada. Sayangnya asal usul masyarakat di kampung ini tidak tercatat jelas, konon sejak peristiwa pembakaran oleh DI/TII pada tahun 1956 dimana manuskrip - manuskrip peninggalan leluhur turut terbakar.

Menurut beberapa sumber nama Naga berasal dari Na Gawir dalam bahasa sunda berarti "berada jurang". Mungkin karena letak keberadaanya di sebuah lereng di lembah Sungai Ciwulan atau barang kali hanya sekedar kiasan tentang adat tradisi dan budaya leluhur di Kampung Naga ibarat berada di bibir jurang, kalau kita semua tidak menjaganya barang tentu akan hilang ditelan Zaman. Kampung Naga terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Saat ini kampung tersebut dijadikan sebagai tempat studi tentang kehidupan masyarakat pedesaan Sunda pada masa peralihan dari pengaruh Hindu menuju pengaruh Islam di Jawa Barat. //sp.