Jumat, 29 Mei 2009 - 02:14:35 WIB
Dieng, Kerajaannya para Dewata
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Budaya - Dibaca: 11175 kali

Dieng, yang berarti Edi tur Aengsi (tempat yang indah). Apalagi kalau dilihat dari puncak gunung, pemandangan dari sana terlihat sangat indah. Dieng juga berarti tempat para dewa. 

 
Menurut Ki Rusmanto(58), kuncen Pertapan Mandala Sari, yang di nobatkan oleh Eyang Begawan Sampurno Jati. Dieng adalah tempat bersemayamnya para dewa, dan sampai sekarang pun masih bersemayam disini. 
"Saya yakin bahwa para dewa masih bersemayam disini, pertapan ini adalah keratonnya para dewa," kata Ki Rusmanto. Keberadaan keramat-keramat di Gunung Dieng, memiliki kaitan erat dengan kekuasaan gaib Segoro Kidul. "Ibu Ratu Segoro Kidul memberikan Amanat pada para leluhur yang ditugaskan di Gunung Dieng," lanjutnya.
 
Perjalanan spiritual di keramat-keramat Gunung Dieng mengandung makna kehidupan, pelajaran-pelajaran hidup tersirat di dalamnya, tinggal bagaimana kita yang memaknai. Keramat-keramat di Gunung Dieng memiliki nilai pendidikan spiritual. Semua keramat di Gunung Dieng mengandung pendidikan spiritual, dimulai dari Bima Lukar yang merupakan sumber mata air Sungai Serayu, disini harus mandi jamas yang bertujuan untuk mengeluarkan "bronjong kamurkan" atau angkara murka. Membersihkan jiwa dan raga, ini dilakukan sebelum masuk ke Pertapan Mandala Sari.
 
Telaga Warna, yang melambangkan nafsu yaitu empat nafsu kalau orang Jawa menyebutnya sedulur papat, (amarah, aluamah, supiah dan mutmainah). Kelima pancer yang dianut dari empat saudara itu. Sehingga sedulur papat harus menyatu atau manunggal, jangan sampai pisah apalagi jalan sendiri-sendiri. 
Lalu ada Gua Jaran, Jaran itu nafsu, jadi nafsu keempat tadi harus dikendalikan kearah yang putih. Ditempat itu jumeneng Eyang Resi Kendali Seto atau yang mengendalikan nafsu. 
 
Telaga pengilon (cermin), manusia harus berkaca, introspeksi diri, jangan suka menyalahkan orang lain. Apakah kita sudah benar atau tidak? Kalau kita sudah benar pun juga tidak boleh mengatakan benar. Membenarkan diri adalah prilaku yang kurang baik. Setelah itu baru bisa masuk ke Gua Semar, Gua berarti ghugu marang pitulungku, Semar ojo samar wong urip ono sing nguripi. Gusti Inkang Maha Suci Sumarah Purbange Sang Murbeng dzat, olo becik dadi sandangane alam mboten saget dirubah. Baik dan buruk adalah kelengkapan alam, tidak bisa dirubah tetapi tinggal bagaimana mengendalikannya. Jadi yang nafsu jelek itu bisa dikendalikan atau tidak.
 
Kemudian gua Sumur, disitu ada banyu panguripan (tirto kamandanu) bagi orang yang percaya pada warisan leluhur, air itu bisa bermanfaat untuk pengobatan, penglaris, dll," kata Ki Rusmanto. Kawah Sikidang, kidang (rusa) itu jalannya lompat-lompat dan makannya pupus daun, memiliki magna bahwa cita-cita atau keinginan boleh setinggi langit tapi "Sumarah purbaning gusti, mupus panduming gusti" berserah pada Tuhan, karena semua kuasanya Gusti Alloh.
 
Makanya harus masuk Kawah Sileri yang magnanya, orang hidup tidak boleh melanggar wewelering (aturan) urip yang empat perkara. Melanggar wewelering rumah tangga. Melanggar wewelering masyarakat. Melanggar wewelering negara. Melanggar wewelering Gusti Inkang Maha Suci, Alloh SWT. Setelah itu masuk Kawah Candradimuka, kalau semua di jalankan dengan baik, keinginan atau cita-cita ya jangan sampai di tunda-tunda. Condro iku wulan, muko iku ngarep yo ojo ditunda nganti wulan-wulan. Makanya ada Jala Tunda, keinginan yang baik jangan ditunda-tunda. "Apa yang diinginkan supaya cepat kesampaian dan tidak tertunda-tunda," kata Ki Rusmanto.
 
Semua tatanan alam yang ada di Dieng mengandung nilai pendidikan spiritual yang harus dihayati semua umat berbudaya. "Eyang Purbowaseso, yang menentukan diterima tidaknya permintaan ke para leluhur. Sebagai orang tua, harus memberikan wawasan untuk anak-anak supaya nanti dapat memahami dan mengetahui tatanan budaya Nusantara yang sebenarnya," pesannya. Sebab jaman akan berubah kembali lagi pada tatanan budaya. Nanti setelah tahun 2011, harus sudah berjalan tatanan budaya Nusantara, adat istiadat, budaya, warisan leluhur. 
 
Bangsa Indonesia akan mengalami kejayaan apabila mau kembali pada tatanan budaya. Agama yang berbudaya itu tidak meninggalkan adat istiadat warisan leluhur. Silahkan beragama apapun yang disahkan oleh negara, tapi kebudayaan harus tetap dipertahankan keberadaannya. Perang gaib akan segera dimuali, kawulanya Ibu Ratu Kidul sudah mulai kerja, mengambil orang-orang jahat yang tidak kena jeratan hukum, dengan revolusi alam lewat karma pala. Setelah itu Indonesia akan mengalami kejayaan, Dunia akan berpaling ke Indonesia setelah Pancasila diamalkan oleh bangsa Indonesia secara murni dan konsekuen. Karena pancasila merupakan jatidiri bangsa warisan leluhur. //suparjo