Selasa, 10 Oktober 2017 - 13:00:07 WIB
Asal Mula Nama Jemblung
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Budaya - Dibaca: 392 kali

Di Desa Kedungweru, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, tempat Watiman Rusdiono lahir dan tumbuh, pementasan kesenian dalang Maca Kanda hanya dilakukan pada saat acara Nguyen. Sebuah tradisi berupa tirakatan di rumah orang yang usai melahirkan, dilakukan semalam suntuk yang tujuannya untuk tolakbala atau menjaga si bayi dan juga ibunya agar jauh dari gangguan makhluk halus yang akan mengganggunya.

Pementasan dalang Maca Kanda yang dilakukan dengan sukarela ini mulanya bertujuan untuk hiburan dan siar Islam di kalangan masyarakat bawah. Cerita-cerita yang disajian mengambil cerita Babat Menak atau Serat Menak. Cerita yang menyangkut masalah penyebaran ajaran Islam.

Seirig berjalannya waktu kesenian dalang Maca Kanda inipun menjadi hiburan favorit dan memunculkan regenerasi hampir disetiap wilayah. "Jaman ndisit, meh saben desa ana dalang Maca Kanda," ucap Rusdianto.

Semakin banyaknya dalang inilah yang kemudian memunculkan nama jemblung, yang sebenarnya nama jemblung sendiri merupakan nama dari salah satu tokoh yang ada di cerita Babad Menak.

Menurutnya di dalam cerita Babad Menak itu ada tokoh yang bernama Jemblung Umarmadi, dan Jemblung Umarmadi itu sendiri merupakan salah satu santri dari tokoh yang bernama Umarmaya. Karena sudah menjadi tokoh yang disukai oleh masyarakat, setiap kali ada acara Nguyen masyarakat menyebut jemblung di tiap kali pementasan.

"Dadi salah yen ana wong ngomong jemblung kuwe jenjeme wong gemblung, berarti wong kae ora ngerti yen kesenian jemblung kuwe ya duwe pakem,” jelas priya kelahiran 1946 ini.

Meskipun dilakukan dengan cara guyonan (humor), pementasan kesenian dalang jemblung itu mempunyai pakem dimana pada awal pementasannya dalang akan mengumandangkan tembang macapat dandanggula cengkok banyumasan.

Bahkan kesenian jemblung di era sebelum kemerdekaan juga dijadikan corong perjuangan dan oleh kalangan pujangga dan seniman, jemblung juga dijadikan sarana untuk mengumandangkan dan mengajak masyarakat agar mengamalkan nilai-nilai pancasila.

"Lah wong sejarahe bae ana masa diarani gemblung, wis kaya kuwe, jemblung uga pernah dinggo corong perjuangan karo siar Islam, lah wong tembange ana koh," ucapnya menggebu.

"Kawarnoho madeging nagari, bab temindaking peprentahan, tinoto ngurih tentreme, ing mengko landesanipun, uger-uger gangsal perkara", merupakan beberapa bait dalam tembang dandanggula cengkok banyumasan yang pada waktu menjelang kemerdekaan selalu dinyanyikan oleh seniman dalang jemblung disetiap pementasannya.

Dengan pengalaman dan keahliannya, pemanin kesenian dalang jemblung akan memainkan tokoh-tokoh dalam pertunjukannya secara improvisasi tapi penuh dengan ide baru disesuaikan dengan perkembangan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.

"Kabeh ya dilakokna karo guyonan banyumasan, cengkok ya banyumasan merga kesenian iki asli kesenian sekang Banyumas," terang Rusdianto.