Minggu, 24 November 2013 - 14:14:30 WIB
Makna Rujak Bebeg pada Ruat Bumi Cipendok
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Budaya - Dibaca: 7304 kali

Legenda Dewi Mas Inten memang masih melekat dikalangan masyarakat sekitar Curug Cipendog, Kris Harto kepala Upt Curug Cipendok yang juga pengamat dan pelaku budaya diakhir acara Ritual Ruat Suran Dewi Mas Inten mengisahkan, legenda Dewi Mas Inten itu bermula saat pergeseran antara Kerajaan Majapahit ke Demak Bintoro. Konon, akibat pergeseran kekuasaan dari Majapahit ke Kasultanan Demak Bintoro membuat beberapa kerabat dan petinggi Kerajaan Majapahit lebih memilih mengasingkan diri ditempat-tempat sepi. Begitu juga dengan Dewi Mas Inten yang diyakini oleh masyarakat sebagai seorang keturunan salah satu punggawa dari Kerajaan Majapahit yang mengasingkan diri di Curug Cipendok.

Legenda Dewi Mas Inten mulai ada ketika berakhirnya perang Diponegoro. Perang yang dimenangkan Belanda itu membuat seluruh wilayah kerajaan Surakarta termasuk wilayah Dulangmas, meliputi Kedu, Magelang, Banyumas berada dibawah kekuasaan pemerintahan kolonial. Perjanjian tersebut tertuang dalam perjanjian Dulangmas Salah satu wilayah Banyumas yaitu Ajibarang, saat itu dipimpin oleh seorang Wedana bernama Raden Ranusentika. Pada saat itu diberi tugas untuk melakukan pembukaan hutan belantara di sekitar lereng Gunung Slamet untuk dijadikan area perkebunan.

Disinilah awal mula legenda Dewi Mas Inten terkuak. Kisah asmara dua insan yang berbeda alam ini terjadi ketika Raden Ranusentika secara tidak sengaja mendengar suara tawa disebuah sungai dibalik semak, merasa keheranan, Raden Ranusentika pun mencari keberadaan suara tersebut dengan sembunyi-sembunyi. Alangkah terkejutnya Raden Ranusentika ketika mendapati apa yang dia lihat adalah sosok seorang perempuan yang tengah mandi. Disinilah awal mula perjalanan kisah asmara Raden ranusentika dengan Dewi Mas Inten. Kisah asmara inilah yang digambarkan dengan prosesi atraksi pembuatan rujak bebeg saripatineng bumi saat Ruat Bumi Cipendok, kenapa kisah itu digambarkan dengan atraksi pembuatan rujak bebeg, menurut Kris Harto, filosofi yang diambil dari prosesi atraksi pembuatan rujak bebeg saripatineng bumi itu adalah sebuah gambaran manusia dalam mengarungi kehidupan berumah tangga yang merasakan pahit getir dan manis asinnya kehidupan di alam semesta ini.

Perpaduan antara alu dan lumpang (lingga dan yoni) dalam mengolah saripati hasil bumi yang ditambah dengan bumbu-bumbu supaya menghasilkan sebuah rasa yang nikmat. “Kalau bicara rujak bebeg tentunya itu tidak lepas dari perpaduan alu dan lumpang atau lingga dan yoni dalam membuat atau meracik semua rasa dari pahit, manis, asin dan getir dengan bumbu-bumbu yang pas pastinya akan menghasilkan bebegkan yang enak, kalau gambarkan pada sebuah kehidupan manusia, menyatunya cinta kasih dua insan dalam mengarungi hidup jika diniati dengan iklhas dan saling mengerti tentunya akan menghasilkan keturunan yang baik.”Jelasnya.

Begitu juga dengan alam dan seisinya, tigal bagaimana niat kita dalam mengolah keaneka ragaman warna , rasa dan rupa. Ibarat pelangi yang indah karena perpaduan aneka macam warna, begitu juga dengan alam dan seisinya. Kalau kita bisa menjaga, menghormati dan merangkul semuanya baik adat, budaya maupun keyakinan tanpa melanggar etika untuk satu kesatuan niscaya bumi akan menjadi indah. Selain mengandung nilai filosofi yang luas, atraksi pembuatan rujak bebeg ini juga merupakan bentuk kearifan local rasa bakti masyarakat sekitar terhadap lelurur yang ada di Curug cipendok, ungkap Bapak Samin selaku sesepuh adat setempat. Menurutnya, sudah menjadi keyakinan masyarakat secara turun-temurun kalau rujak bebeg adalah makanan kesukaan dari Dewi Mas Inten dan Raden Ranusentika, jadi dengan membuat dan menyiapkan rujag bebeg pada tiap-tiap upacara adat itu menandakan bahwa masyarakat sekitar Curuk Cipendok mengakui keberadaan Dewi Mas Inten dengan Raden Ranusentika sebagai leluhur masyarakat setempat.//ipung.