Rabu, 20 November 2013 - 20:20:58 WIB
Si Penderes Nira
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Berita Kota - Dibaca: 4650 kali

Pagi itu Kasbi (32) telah menyiapkan peralatannya yang berupa sabit dan wadah jirigen, ia lalu melangkahkan kakinya menyusuri setiap jengkal pematang sawah. Cuaca dingin tak menurungkan niatnya untuk mengambil sadapan nira (badeg) sebagai bahan untuk membuat gula kelapa. Demikian setiap pagi Kasbi yang warga Grumbul Bandayuda, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas ini menjalankan aktifitasnya. Sedikitnya 30 pohon kelapa yang harus dipanjat. Namun semua itu bukan miliknya melainkan pohon kelapa milik tetangganya dengan sistem bagi hasil, jadi dalam sehari Kasbi harus memanjat pohon kelapa sebanyak 60 kali karena dalam sehari setiap pohon dipanjat dua kali yaitu pagi dan sore.

"Di daerah sini umumnya bagi penyadap yang tidak memiliki pohon kelapa mereka biasanya bekerja sama dengan pemilik pohon kelapa dengan sistem bagi hasil, yaitu lima hari hasil sadapannya buat sipemilik, lima hari berikutnya untuk si penderes."Ucapnya.

Mayoritas penduduk Grumbul Bandayuda memang sebagai penderes dan pembuat gula kelapa. Setiap harinya Kasbi bisa memproduksi gula kelapa lima sampai enam kilogram dengan lama pembuatan lebih dari empat jam, belum lagi resiko yang harus ia pertaruhkan saat memanjat pohon kelapa. Menurutnya kendala terbesar bagi penderes itu pada saat musim hujan, selain karena hasil sadapannya sedikit, disaat musim hujan batang pohon kelapa juga menjadi licin. Sedangkan untuk mendapatkan hasil nira yang banyak setiap mau memasang pongkor (bambu untuk wadah sadapan nira) yang baru manggar kelapa harus dipotong. pemotongan manggar itu harus dilakukan pada pagi dan sore hari.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari bapak dua orang anak inipun harus menderes meskipun hari sedang hujan. "Jika sekali saja tidak dipotong saat memasang pongkor, manggar akan kering dan tidak keluar niranya dan agar bisa keluar lagi niranya, itu membutuhkan waktu tiga sampai empat hari. sama kaya deres manggar yang baru," jelasnya.

Sebelum memasang pongkor, agar sadapan nira bisa dicetak (bisa mengeras) pokor yang mau dipasang harus diberi larutan air kapur (laru) yang diberi pewarna alami dari kulit manggis atau dengan daun sletri. "kalau tidak dikasih pewarna dari kulit manggis atau daun sletri gula yang dihasilkan berwarna putih," tuturnya.

Setelah semua sadapan nira terkumpul dan dimasukan dalam satu wadah, sadapan nira itupun harus segera diproses agar menghasilkan gula yang berkualitas bagus. Sadapan nira dimasak wadah atau kuwali besar hingga mendidih dan mengental diatas tungku dengan pembakaran dari serbuk kayu. Setelah rebusan nira sudah mengental, dan diangkat dari tungku, proses selanjutnya adalah pencetakan. Di Grumbul Bandayuda sendiri ada dua jenis gula kelapa yaitu gula kelapa kristal (semut) dan gula kelapa cetak, tapi pada umumnya pembuatan gula kelapa Kristal akan dilakukan jika nira yang diperoleh itu benar-benar murni tidak bercampur dengan embun maupun air hujan.

Dikatakan oleh Kasbi, proses pembuatan gula kristal memakan waktu lebih lama dari gula cetak dan akan lebih lama lagi jika hasil sadapan nira bercampur dengan air hujan seperti saat-saat ini, prosesnya akan jauh lebih lama lagi karena gula tidak mudah kering. "Jika sedang musim kemarau membuat gula kelapa Kristal hanya satu kali proses, tapi jika lagi musim hujan itu dua kali proses karena gula harus dijemur dulu." katanya.

Saat ini, lanjutnya. Harga gula kelapa sedang murah, untuk gula kelapa cetak satu kilonya dihargai enam ribu tujuh ratus rupiah sampai tujuh ribu rupiah, sedangkan gula kelapa kristal kisaran sembilan sampai sepuluh ribu rupiah. Untuk itu meskipun nira yang didapat bercampur dengan air hujan, demi mendapatkan penghasilan lebih ia memilih membuat gula kelapa kristal. "Setidaknya bisa buat tambah-tambah untuk beli serabut gergaji." Ungkapnya. Diswan (60), salah satu penduduk sekitar mengatakan, merosotnya harga pasaran gula kelapa akhir-akhir ini benar-benar sangat memberatkan para petani nira. "Ibarat kata, kerja sehari hanya cukup untuk makan." jelasnya.//Ipung