Rabu, 20 November 2013 - 20:14:36 WIB
Semarak Festival Baturraden
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Budaya - Dibaca: 7181 kali

Gelar Festival Baturraden 2013 yang ke 14 berlangsung sangat meriah minggu (17/11). Arak-arakan festifal ini diikuti oleh 12 desa pemangku pariwisata Baturraden dengan menunjukkan kesenian budaya dari masing-masing desa. Acara pelepasan arak-arakan diawali dari Bumi Perkemahan Palawi Baturraden oleh Kepala Palawi Baturraden Anwar Saifudin. Ketika ditemui dikantornya Anwar Saifudin mengatakan, sebagai pihak swasta yang mengelola bumi perkemahan dan beberapa obyek wisata alam disekitaran Baturraden sangat mendukung dengan adanya Festival Baturraden yang merupakan agenda tahunan dari PMPB (Paguyuban Masyarakat Pariwisata Baturraden) dengan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas.

Menurutnya, selain bisa menjaga lestarinya kearifan seni dan budaya asli Banyumas, adanya festival tersebut juga merupakan promo yang bisa menguntungkan semua pihak, baik swasta, pemerintah daerah maupun masyarakat sekitar. "Dengan adanya Festifal Grebeg Suro Baturraden tentu saja akan mengundang banyak wisatawan." ucapnya.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata Banyumas, Supartono mengatakan Festival Batuaraden atau Grebeg Sura Baturaden dilaksanakan setiap hari Minggu Kliwon, pada bulan Suro di Kalender Jawa. "Prosesi diawali dengan kirab dan sarana Grebeg suro, diantaranya Ancak Gunung yang berisi hasil bumi, berbagai macam tumpeng, anggon bocah, visualisasi belisan dan ogoh-ogoh (gambaran sifat jahat manusia) dan rontek janur kuning." kata Supartono disela Acara Festival Baturaden.

Sementara Ketua Paguyuban Masyarakat Pariwisata Baturaden, Tekad Santosa menjelaskan. Ada sekitar 3400 peserta dari 12 desa yang mengikuti Festival Baturaden. Dengan jumlah pengunjung lebih dari 15 ribu orang. "Dari masing-masing desa mengirim 100-200 orang, belum yang bertugas membawa tenong, membawa gunungan dan janur yang merupakan peserta inti dari Grebeg Suran Baturraden selain itu Festival Grebeg Suran ini juga dihadiri dan ditinjau oleh masyarakat Belanda keturunan Indonesia dan Suriname." jelas Tekad.

Dikatakan oleh Tekad, selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, diadakannya grebeg suran ini juga merupakan ajakan kepada masyarakat luas untuk membulatkan satu kesatuan dengan menata pola pikir untuk mendapatkan pencerahan hidup dan ini diapresiasikan dalam bentuk iring-iringan gunungan yang berisikan hasil bumi. 100 tenong yang berisikan takir dan tenggel (golong), tumpeng serta rontek janur yang berupa kerisan dan kupat sakmet. "Membulatkan satu kesatuan pola pikir itu merupakan filosofi dari tenong yaitu sebuah wadah dari rangkaian anyaman bambu yang berbentuk bulat, dimana didalam tenong sendiri berisi takir yang artinya tata pola pikir. Sedangkan untuk tujuan mendapatkan pencerahan itu diambil dari filosofi adanya rontek janur. Jan itu sorga sedangkan Nur itu cahaya." ucapnya.

Jadi, lanjutnya. Dengan melestarikan ragam budaya dan kesenian dengan satu wadah itu bisa mempertontonkan sesuatu yang sangat indah. Setelah pembacaan doa oleh tetua masyarakat Baturraden, gunungan yang berisi hasil bumi itupun diperebutkan oleh ribuan pengunjung yang hadir dan dilanjutkan dengan makan bersama seribu takir dan tenggel. Sebagai penutupan acara, panitia dan tetua adat melakukan pemotongan kurban yaitu kambing kendit di petilasan (makam) Baturraden serta pembakaran ogoh-ogoh dan larungan tumpeng. //ipung