Senin, 07 Mei 2018 - 11:16:03 WIB
Kolaborasi Dua Tradisi Budaya Menjadi Warna Kemasan KPU Banjar
Diposting oleh : Heru
Kategori: Berita Kota - Dibaca: 56 kali

Banjar - Alun alun Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat menjadi tempat terakhir penyelenggaraan Safari Budaya yang merupakan bagian dari ikhtiar Komisi Pemilihan Umum (KPU) kota Banjar. Safari Budaya tersebut merupakan rangkaian KPU Kota Banjar dalam rangka sosialisasikan pilkada serentak Tahun 2018, Sabtu (5 Mei 2018).

Dalam Safari Budaya ini menampilkan etnic music collaboration, solo jaipong, rampak jaipong, sajak sunda, ngawangkong, bobodoran si cepot serta campursari dan tari lengger yang merupakan kesenian dari adat Jawa dan pasundan.

Ketua KPU kota Banjar, Dani Danial Muchlis menuturkan bahwa hal terpenting dalam pagelaran Budaya ini adalah sosialisasi pilkada serentak 2018 terbagi dalam tiga hal pokok yakni, tentang pemilih, siapa yang dipilih, dan kapan waktu untuk memilih.

Menurutnya, Keunikan dari Kecamatan Langensari yang merupakan wilayah perbatasan antara Provinsi Jawa Barat dengan Provinsi Jawa Tengah ini menjadikan pagelaran Safari Budaya kali ini sedikit berbeda. Jadi tidak hanya budaya sunda saja yang ditampilkan, melainkan memasukan budaya Jawa juga ditampilkan dalam Safari Budaya ini.

"Safari Budaya ini mudah mudahan seperti yang kami targetkan, dan bisa mendongkrak terhadap partisipasi masyarakat pada tanggal 27 Juni 2018 nanti," ungkapnya.

Dani menargetkan adanya kenaikan partisipasi masyarakat dalam pilkada serentak Tahun ini, dimana pada saat Pemilu tahun 2014 partisipasi di kota Banjar hanya mencapai 76,16%. Dengan berbagai upaya serta ikhtiar yang telah dilakukan KPU Banjar, mudah mudahan partisipasi masyarakat dalam memilih mencapai angka 78–80%.

Dani menghimbau kepada masyarakat untuk menjadi pemilih cerdas. Pemilih cerdas itu adalah ada kemauan dan kemampuan literasi politik untuk melihat, menganalisi, serta mempelajari visi misi.

Menanggapi persoalan hoax dan selebaran yang menyudutkan salah satu Paslon, Dani mengatakan itu sesuatu yang sebetulnya bisa di abaikan oleh pemilih cerdas, karena si pemilih sudah mempunyai idztihad politik tersendiri dalam memilih siapa paslon yang akan dipilih nanti.

"Jadi Pilkada yang berintegritas akan tercipta bukan dari penyelenggaranya saja, dibutuhkan pula peran serta masyarakat yang mempunyai integritas pada saat pelaksanaan Pilkada serentak sampai pencoblosan nanti," harap Dani./Yuli.