Rabu, 11 April 2018 - 17:51:19 WIB
Dewandaru "Udu Kae Udu Aku"
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Budaya - Dibaca: 84 kali

Dewandaru dalam kata lain "Udu kae udu aku" adalah lambang kewahyuan dan pepeling dari Sang Pencipta untuk umat manusia. Dewandaru bisa dirasakan manakala manusia mau hening, heneng, henung, ngestu tunggal mepegi babagan hawa sanga yaitu jalan masuk hawa yang ada disetiap manusia, khususnya kaum laki-laki demikian menurut Mbah Atmo Suwaryo (78) seorang nelayan yang juga sebagai juru kunci Karang Bandung, Nusakambangan asal Pandanarang saat dijumpai PAMOR di kediamannya di Kelurahan Cilacap, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap. Sabtu (7 April 2018) lalu.

Menurut tokoh yang setiap tahunnya dipercaya memimpin upacara sedekah laut ini bahwa, mengontrol atau mengendalikan hawa sanga itu sebagai pembuka rasa kebatinan, serta pengasah budi pekerti menjadi dasar tajamnya cipta, halusnya rasa, dan kuatnya karsa. Dengan itulah manusia dapat mengetahui dan merasakan apa yang dimaksud dengan Dewandaru.

Memang tidak semuanya, hanya orang-orang pilihan saja yang selama hidupnya menjalani laku "Mad Sinamadan" yaitu sikap tidak mementingkan kepentingan pribadi melainkan untuk kepentingan orang banyak dan meninggalkan sifat keakuan. Disosok inilah Dewandaru atau wahyu Kawijayan akan turun ke Marcapada.

"Dewandaru pada bae udu kae udu aku, lambange wahyu Kawijayan yoiku pepeling kanggo nata urip manungsa nang alam dunya, (Dewandaru sama saja bukan dia bukan aku, yaitu sebuah nasehat untuk menata kehidupan manusia di alam semesta)," jelas Mbah Atmo.

Mbah Atmo juga mengatakan bahwa memang tidak salah ketika sebagian manusia melihat segala sesuatunya hanya dari bentuk atau wujudnya saja, begitu juga dengan Dewandaru yang cenderung dilihat dan diburu dari sisi kayu atau pohonnya karena diyakini memiliki khasiat kewahyuan. Meskipun hal tersebut sama saja dengan rebutan balung tanpo isi yaitu berebut sesuatu yang tidak berarti.

"Ya kabeh mau tergantung karo menungsane, arep juput isine apa bungkuse, (semua tergantung manusianya, mau mengambil isi apa hanya sekedar bungkusnya saja)," tuturnya.

Terlapas dari apa yang menjadi sudut pandang manusia, tentunya Dewandaru masih tetap menjadi bagian dari budaya adiluhung yang dipercaya akan melahirkan manusia-manusia pilihan untuk menegakkan kebenaran, keadilan, dan kemakmuran bangsa.//ipung