Rabu, 07 Februari 2018 - 16:14:43 WIB
Dibalik Kesuksesan Sosok Sertu Slamet, Babinsa Koramil 07/Maos
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Berita Kota - Dibaca: 78 kali

Cilacap - Sosok Sertu Slamet, Babinsa Koramil 07/Maos, Kodim 0703/Cilacap patut diapresiasi dan menjadi inspirasi. Pasalnya pria kelahiran Jalan. Tambangan, Desa Glempang, RT. 01 RW. 02, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, disela kesibukannya sebagai Babinsa di wilayah binaannya, ia masih bisa menyempatkan waktu untuk mengurus peliharaannya dalam beternak bebek petelur.

Hanya dengan modal sangat minim dan niat yang sungguh-sungguh, usaha sebagai perternak bebek petelur  yang dirintis dan digeluti sejak tahun 2015 terus berkembang. Kini Sertu Slamet sudah berhasil menikmati jerih payah yang ditekuninya bersama istrinya.

Saat ditemui, Rabu (07 Febuari 2018), Babinsa yang akrab disapa Slamet menuturkan, untuk sukses dibisnis bebek petelur ini tidak lah susah, Yang penting, menurutnya, seorang peternak harus senang lebih dahulu dengan bebek sehingga punya rasa memiliki terhadap bebek peliharaannya itu sendiri.

Dari usahanya yang mandiri, Sertu Slamet kini berhasil menjadi penyuplai telur bebek di wilayah  Maos. Bahkan banyak pelanggan yang langsung datang mengambil telur bebeknya. Bisnis usahanya hanya dimulai dari modal Rp 18.750.000,-, ia membeli 250 ekor bebek petelur dengan harga Rp 75 ribu per ekornya."Sejak pertama saya memang senang dengan bebek. Saya selalu senang melihat bebek," kata pria 2 anak ini.

Slamet mengaku awalnya cuma iseng-iseng membeli 250 ekor bebek seharga Rp 75 .000 per ekor, lalu ia juga membeli konsentrat, jerangkring dan dedek total seharga Rp 5.932 500,- untuk pakannya per bulannya.

Hasil tak disangka, bebek petelor peliharaannya tumbuh kembang dengan cepat. Setiap pagi Slamet dan istrinya dapat mengambil telor bebeknya, 185 butir dengan harga 1.800 per butirnya. Dalam tempo 1 bulan, ia berhasil memanen telur seharga sekitar Rp 9. 990. 000. Semenjak itu lah, ia semakin bersemangat memutar uangnya, yang akhirnya membawanya menjadi penyuplai 850 ekor bebek, di wilayah Maos dengan omset Rp 29. 700.000,- per bulan.

Sertu Slamet kini sudah memiliki 3 buah kandang dengan masing-masing ukuran 3 meter X 7 meter, dimana setiap kandang bisa menampung 70 ekor bebek. Setiap hari ia memanen telur, sehingga ia bisa lakukan penjualan setiap hari. Bahkan ada yang diambil langsung oleh para pelanggan.

Untuk urusan kandang dan pakan, Sertu Slamet memiliki tips bagi yang mau memulai usaha bebek petelur, yaitu usahan disiapkan salura air di areal kandang untuk keperluan minum bebek setiap harinya, dan bebek petelur itu tidak di siapkan kolam untuk mandi.

Hal ini penting agar kondisi bebek bisa terus bersih dan tak berbau sehinggga cepat bertelur. Mengenai bau, Slamet juga punya tips jitu agar kandang bebeknya tak mengganggu tetangga sebelah, yakni air minumnya tidak jatuh ke tanah, artinya dibuatkan saluran air guna pembuangan langsung ke sungai.

“Syaratnya setiap pemberian pakan pagi dan sore memberikan adonan Jerangking, Kosentrat dan dedek (Bekatul) agar kotoran bebek tak berbau. Dari pakan tersebut juga akan meningkatkan telur bebek ( bebek selalu bertelur setiap hari),” sarannya.

Mengenai pakan bebek, selama ini ia hanya mengandalkan pakan bebek dari sisa makanan seperti jerangkring, yang ia dapatkan cuma-cuma. Selain itu, dedek dan kosentrat yang mudah di dapat. “Berdasarkan pengalaman saya, bebek itu unggas yang tahan penyakit, dikasih makan apa saja mau. Tingkat kematiannya pun lebih jauh," ucapnya.

Untuk tetap menjaga kesehatan bebek terhadap penyakit yang sering menimpa bebek seperti flu, Slamet  juga punya tips ampuh untuk mengobati bebek dari flu yaitu dengan memberikan obat turbo dicampur dengan adonan makanan karena lebih efektif.

Berternak bebek petelur, Menurut Slamet begitu menggiurkan, khususnya di Wilayah Maos ada masyarakat yang masih berternak bebek hanya beberapa saja. Sementara konsep yang ia kembangkan adalah berternak bebek petelur secara total dengan tidak melepas bebek namun dikandangkan dalam jumlah besar sehingga tingkat pertumbuhannya sangat cepat.

“Kalau saya langsung diambil oleh konsumen atau pelanggan seperti rumah makan, pengepul  dan lain-lain,” ujar Slamet. Bahkan katanya, jika dibandingkan berternak ayam petelur, dari sisi harga, harga telur bebek cenderung harga jual cukup bagus. Saat ini ia menjual telur bebeknya per butir RP. 1.800,-.

“Terus terang saja, saya sekarang setiap harinya selalu memanen telor,” kata Babinsa Koramil 07/Maos Sertu Slamet ini. Lewat keuletan dan keseriusannya ini, ia kini menikmati bisnisnya yang terus berkembang.

Setidaknya ia sudah mandiri membangun kandang senilai Rp 40 juta di pekarangan rumahnya. Bahkan segala keperluannya seperti pakan dan lain-lain diantar untuk menopang kegiatan usahanya. Intinya, menurut Slamet berbisnis ternak bebek petelur tidak lah susah, jika ada kemauan pasti bisa sukses. Untuk urusan modal, ia telah membuktikan bahwa memulai bisnis tidak melulu merogoh kantong.

“Dengan pakan bekas makanan kita menghasilkan produksi yang tinggi. Berternak tak selamanya pakai dana besar,” tutur Sertu Slamet yang kini sudah memiliki 850 ekor bebek. //Wd/Pendim.