Kamis, 01 Mei 2008 - 17:10:58 WIB
Tradisi Jumat Kliwon dipesisir Segoro Kidul
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Tradisi - Dibaca: 3740 kali

Di pesisir pantai selatan (Segara Kidul) di sepanjang pulau Jawa sangat dikenal kesakralannya.  Mitos tentang hubungan penguasa Segara Kidul dengan raja-raja Mataram sudah melekat dihati masyarakat Jawa yang dikaitkan dengan Wahyu Kedaton. Segara Kidul merupakan kerajaan khayangan terbesar yang memangku Nusantara sebagai perwujudan dari Ibu Pertiwi.


Setiap malam jumat kliwon dipesisir Segara Kidul selalu dipadati oleh peziarah, umumnya mereka melakukan ritual dengan maksud dan tujuan tertentu, doa dan permintaan ditujukan kepada Sang Khaliq, hanya saja perantaranya melalui penguasa Segara Kidul yang lebih dikenal dengan sebutan Ibu Ratu Segara Kidul. Tradisi ini sebenarnya sudah ada sejak jaman kerajaan, meski sudah mulai terkikis ditelan jaman dan peradapan modernisasi namun, tidak sedikit masyarakat yang masih menjalankan dan memercayainya.


Para peziarah datang dari berbagai daerah, tempat yang ditujupun beragam, ada yang di pebukitan pesisir selatan, gua, atau langsung dipantai Segara Kidul. Ritual dilakukan dengan berbargai sesaji, seperti jajan pasar, tumpeng, kembang setaman dan lain-lain. Namun, lain tempat lain pula sesaji dan ritualnya, misalnya ada yang melengkapi dengan buah-buahan, ayam panggang, kambing, bahkan ada juga yang menyajikan sapi atau kerbau.
Menurut Ki Waris, juru kunci Gua Nagaraja, ritual dan sesaji yang dipersiapkan oleh peziarah itu tidak sama, dan biasanya peziarah akan mendapatkan petunjuk terlebih dahulu melalui mimpi, setelah itu baru mempersiapkan sesuai petunjuk.


"Itupun tergantung dari maksud dan tujuannya, masing-masing orang kan berbeda," tutur Ki Waris. Gua Nagaraja didiami oleh para leluhur seperti Eyang Nagaraja, Eyang Prabu Anom, Eyang Nagaruncing, Eyang Nagagini, Watu Lumpang, dan Dewi Daya Indah. Para peziarah yang berkunjung ke Gua Nagaraja biasanya datang beberapa hari sebelum jumat kliwon, mereka bermalam di Gua Nagaraja untuk menyepi, menenangkan diri dan memperbaiki hidup dengan lantaran leluhur di Nagaraja sebagai sareatnya, hakekat tetap kepada Sang Khaliq.

Biasanya para peziarah melakukan ritual-ritual khusus, misalnya solat hajat, dzikir, dan doa-doa yang diajarkan oleh agama. Mereka memilih tempat itu karena dirasa lebih tenang dan jauh dari kehidupan duniawi sehingga merasa lebih khusyuk.


Larungan
Dipesisir Segara Kidul sering digunakan untuk ritual labuhan  (larungan).  Menurut Ki Ali Muhammad atau Mbah Ali juru kunci Gua Rahayu,  sebagai sesepuh yang sering memimpin ritual labuhan di pesisir Segara Kidul. Ritual labuhan berupa aneka sesaji yang dipersiapkan itu dimaksudkan untuk membersihkan diri dari segala kesulitan, sial, atau ibarat baju dicuci untuk dibersihkan kembali.


"Kesemuanya itu diaturkan kepada Kanjeng Gusti Ayu Ratu Kidul supaya diayomi, setelah itu kembali dengan Eyang Suci Rahayu. Sarining dupo, sekar telon, jajanan pasar, pasaran kerin, tumpeng mugana, sayur kambing, kopi manis, kopi pait, teh manis, teh pait, air putih, kelapa muda ijo. Kesemuanya itu untuk (bekteni) para leluhur yang ada dikabupaten Cilacap," jelas Mbah Ali. "Semoga para leluhur melindungi (ngayomi) semua anak keturunan yang ada di Nusantara," lanjutnya.

Kesemuanya itu harus didasari dengan kepercayaan, kalau tidak percaya, tidak yakin akan tanpa guna, apapun yang dilakukan akan sia-sia saja. Eyang Suci Rahayu adalah yang paling tua, Eyang sebutan untuk tua, Suci sebutan untuk bersih, dan Rahayu sebutan untuk (rah) dari bapak-ibu waktu bersetubuh belum ada wujud sampai ada, yang bertapa sembilan bulan sepuluh hari di gua ibu, kemudian bertapa di guanya gunung yaitu di gua masing-masing wujud, dan di guanya Bumi (liang lahat). Tidak ada menjadi ada, sudah ada jadi tidak ada lagi yaitu kembali ke asalnya.

Demikian disampaikan oleh Ki Ali Muhammad atau Mbah Ali juru kunci Gua Rahayu. //Suparjo