Jumat, 30 Mei 2008 - 17:07:05 WIB
Syekh Makhdum Wali Astana Ambawang Gula Gumantung
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Budaya - Dibaca: 8690 kali

Babad Pasir Luhur tak lepas dari cerita Kamandaka Lutung kasarung, terjadi pada masa Adipati Handadaha yang berkuasa waktu itu. Setelah Raden Kamandaka atau Banyak Cotro menikah dengan Dewi Cipto Roso, secara turun-temurun Kadipaten Pasir Luhur di pimpin oleh keturunannya. Raden Banyak Cotro dan Dewi Cipto Roso mempunyai putra bernama Raden Banyak Wiroto, menjadi Adipati menggantikan R. Banyak Cotro.
 
Adipati Banyak Wiroto kemudian menurunkan ke putranya yaitu Raden Banyak Roma. Adipati Banyak Roma menurunkan lagi ke putranya bernama Banyak Kesumba, Adipati Banyak Kesumba mempunyai dua putra bernama Raden Banyak Blanak dan Raden Banyak Geleh. Raden Banyak Blanak mempunyai putra bernama Raden Banyak Tole. Sedangkan Raden Banyak Geleh mempunyai putra bernama Pangeran Perlangon. Pangeran Perlangon mempunyai putra bernama Pangeran Langkap. 
 
Di ceritakan, ketika Adipati Roma undur dari kekuasaan di gantikan oleh kedua putranya yaitu Raden Banyak Blanak dan Raden Banyak Geleh. Menjadi Adipati dan Patih di Kadipaten Pasir Luhur. Raden Banyak Blanak menjadi Adipati, sementara Raden Banyak Geleh sebagai patih dan berganti nama menjadi Wirakencana. Pada waktu itu, pengaruh kekuasaan Demak Bintoro sudah mulai meluas di pulau Jawa.
 
Beberapa utusan pun mulai disebar oleh Sultan Bintoro untuk menyiarkan agama Islam, tak terkecuali Kadipaten Pasir Luhur. Maka diutuslah Syekh Makhdum Wali untuk menemui Adipati Pasir Luhur. Ketika Raden Banyak Blanak sedang sembahyang di sanggar pamujan, ia didatangi oleh Sifat Syekh Makhdum Wali dengan menggunakan aji pameling. Kemudian, terjadilah percakapan tentang kehidupan dan Islam. Setelah percakapan itu Raden Banyak Blanak memanggil Patih Wirakencana.
 
Kepadanya, Sang Adipati menyampaikan sudah waktunya untuk pindah Ajaran. Pendekatan yang dilakukan Syekh Makhdum Wali terhadap Adipati Pasir Luhur sangat tepat, karena beliau menyentuh bathinnya terlebih dulu sebelum menemuinya secara langsung. Sehingga kehadirannya di Pasir Luhur disambut baik oleh Adipati Banyak Blanak dan patih Wirakencana tanpa adanya peperangan. Ini merupakan tonggak sejarah Islam di wilayah Pasir Luhur, yang terjadi pada masa kekuasaan Adipati Banyak Blanak.
 
Menurut H. Harnoto, Ketua Yayasan Maqom Syekh Makhdum Wali dan Senopati Mangku Bumi Pasir Luhur. Waktu itu tidak terjadi suatu peperangan, atau pun perselisihan. Karena, barangkali karomahnya Mbah Syekh Makhdum Wali. "Adipati Banyak Blanak sudah ada firasat, bahwa sudah saatnya beralih keyakinan. Sehingga, kehadiran Mbah Syekh Makhdum Wali dapat diterima dengan baik," tuturnya. "Itu merupakan hidayah dari Alloh SWT pada Adipati Banyak Blanak, saat itu bisa terjalin hubungan antara Ulama dan Umara dalam mengembangkan Agama Islam di tratah Pasir Luhur." kata H. Harnoto.
 
"Terjalinnya hubungan antara Ulama dan Umara waktu itu adalah cermin bagi bangsa kita, karena dulu sudah pernah terjadi antara Adipati Banyak Blanak dengan Mbah Syekh Makhdum Wali," lanjutnya. Barangkali ini termasuk pilar negara, di sinilah tempat ritual, tempat berdoa, dan menjadi central Islam dijamannya. Pada saat itu berdiri sebuah pesantren yang bernama "Ambawang Gulo Gumantung". Harumnya buah mbawang yang dipadu dengan gula dan digantung. Betapa siapa pun ingin menyucup, jadi siapa yang tidak ingin menyucup ilmunya pesantren Ambawang Gulo Gumantung.

Menurut R. Budi Sasongko (49). Setelah masuk Islam, Raden Banyak Blanak diutus oleh Sultan Demak untuk menyebarkan Islam dari Pasir Luhur ke barat sampai sebelah timur Sungai Citarum, lalu membuat tapal batas yang dinamakan Udug-udug Krawang. "Setelah selesai, Raden Banyak Blanak menghadap Raden Patah di Demak. Oleh Raden Patah, beliau di utus kembali menyebarkan Islam ke bagian timur Pasir Luhur sampai wilayah Pati,"tuturnya. "Tugas itu pun dapat diselesaikan dengan baik, Raden Banyak Blanak kembali menghadap Raden Patah.
 
"Sementara di Demak, para wali sedang sibuk membangun masjid. Adipati Banyak Blanak dan prajuritnya pun turut membantu pembangunan Masjid Demak," lanjutnya. Atas keberhasilan Raden Banyak Blanak dalam menjalankan tugas penyebaran Islam, Sultan Demak memberi gelar Pangeran Senopati Mangkubumi¯. Selain itu, Pasir Luhur dibebaskan dari pajak setiap tahunnya, diberi Mustaka Masjid, dan diberi seribu pikul jebuk wangi (jambe). Untuk kemudian, Raden Banyak Blanak lebih dikenal dengan Pangeran Senopati Mangkubumi.
 
Singkat cerita, setelah Raden Banyak Blanak atau Pangeran Mangkubumi wafat, Kadipaten Pasir Luhur dipimpin oleh putranya yang bernama Raden Banyak Tole. Namun, Adipati Banyak Tole tidak menerima ajaran ayahnya, dan membangkang dari kekuasaan Demak Bintoro. Ia pun berseberangan dengan patih Wirakencana (pamannya). Adipati Tole pun harus beradapan dengan kekuatan Demak bintoro, waktu itu yang menjadi Sultan Demak adalah PangeranTrenggono.
 
Pasir Luhur tidak mampu menghadapi kekuatan Demak, Adipati Tole memilih meninggalkan Pasir Luhur. Karena kekosongan kekuasaan di Kadipaten Pasir Luhur, oleh Sultan Demak diangkatlah Patih Wirakencana menjadi Adipati Pasir Luhur bergelar Pangeran Senopati Mangkubumi II. Kadipaten Pasir Luhur kemudian dipindah ke arah timur laut Sunggai Logawa, dan berganti nama menjadi Kadipaten Pasir Bathang.
 
Syekh Makhdum Wali padepokannya tetap di Ambawang Gulo Gumantung, sampai akhir hayatnya. Beberapa tahun kemudian Pangeran Mangkubumi II pun wafat, dan dimakamkan satu liang dengan makam Syekh Makhdumwali. Sebelumnya pernah terjadi perjanjian antara Syekh Makhdum Wali dengan Pangeran Mangkubumi II, bahwa kalau nanti sampai akhir hayatnya keduanya akan disemayamkan pada liang lahat yang sama. Hal ini menunjukan kesetiaan Mangkubumi II terhadap Gurunya yaitu Syech Makhdum Wali dalam mempertahankan dan mengamalkan ajaran Islam di Kadipaten Pasir Luhur.
 
Disini sebenarnya sudah dicontohkan, Ulama dan Umara menyatu sampai ke liang lahat. Demikian diceritakan oleh R. Budi Sasongko, yang masih Trah Pasir Luhur dan H. Harnoto, Ketua Yayasan Maqom Syekh Machdum Wali dan Senopati Mangkubumi Pasir Luhur.//Suparjo-Ester