Rabu, 11 Juni 2008 - 17:03:38 WIB
Senja di Sungai Ranjing
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 3557 kali

Usia senja tidak menjadi halangan untuk terusbekerja. "Yen ora ngrembyah ora mamah,   yen ora ubet ora ngliwet (kalau tidak berbuat ya tidak makan, kalau tidak kreatif ya tidak masak), saya memang orang tidak punya, tapi pantang bagi saya untuk berdiam diri dan meratapi nasib," Kata mbah Mar.

Usia tidak menjadi alasan bagi Mbah Mar (70 th) yang setiap harinya sebagai pengumpul dan pemecah batu koral. ini sudah menjadi mata pencahariannya. Nama lengkapnya Mario tapi biasa dipanggil Mbah Mar. "Dulu waktu tenaga saya masih kuat, selain memecah batu koral saya juga bekerja menjadi buruh tani," kata Mbah Mar, warga Desa Pulesari, Kecamatan Jumapolo, Karanganyar.

Untuk mencari dan mengumpulkan batu koral membutuhkan kerja keras, ketekunan dan kesabaran yang tinggi. Terlebih kalau batu koral sudah terkumpul banyak tapi belum ada pembeli, itulah ujian kesabaran yang paling besar. Sehingga, agar dapur tetap ngebul ia pun harus mencari pekerjaan lain. "Apa saja yang penting bisa buat makan,"¯ tuturnya.

Mbah Mar juga kerap mencari daun pisang untuk dijual ke pasar yang hasilnya buat kebutuhan sehari-hari. "Yang penting halal," lanjutnya. Setiap harinya Mbah Mar harus menempuh jarak yang lumayan jauh untuk mendapatkan batu-batu yang hendak dibuat koral, dengan medan yang tidak mudah untuk dilalui. Belum lagi waktu untuk memecah batu-batu tersebut.

Dibutuhkan waktu satu bulan bagi Mbah Mar, untuk mencari dan mengumpulkan batu koral sebanyak satu mobil pick up. Itu pun tidak langsung laku dijual, karena kebanyakan koral akan laku pada saat musim kemarau dan harganya masih bisa ditawar oleh pembeli. Lamanya waktu untuk menunggu pembeli tidak menjadikan Mbah Mar berkecil hati. "¯Semua tergantung nasib, kalau sudah rezeki pasti cepat laku," ujarnya.

Berbekal palu dan karung Mbah Mar dengan tekun menjalani profesinya. Panas terik matahari tidak menjadi penghalang untuk terus mengayunkan palu, memecah batu koral sebanyak mungkin. Memang Mbah Mar tidak hanya mengumpulkan batu koral saja, ia juga mencari dan mengumpulkan batu-batu besar yang dipakai untuk pondasi bangunan. Penghasilan yang didapat dari penjualan batu koral memang belum mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya.

Namun, semangat untuk terus bekerja dan berusaha menjadi dorongan hidup bagi Mbah Mar. "Saya memang orang tidak punya, tapi pantang bagi saya untuk berdiam diri dan meratapi nasib,"¯ tuturnya. Mbah Mar ternyata salah satu dari sekian banyak orang yang harus memeras keringat dan membanting tulang demi menghidupi keluarga. Meskipun, untuk berjalan saja Mbah Mar harus dibantu dengan tongkat.

Semangat untuk berusaha terus berkobar dalam diri Mbah Mar. "Yen ora ngrembyah ora mamah, yen ora ubet ora ngliwet." Istilah yang di ucapkan Mbah Mar, seraya tangan tuanya yang terus bekerja mengayuh palu memecah batu. Rasa letih terlihat jelas di sosok yang sudah banyak mengenyam asam garam kehidupan ini. Potret kehidupan Mbah Mar merupakan sebuah cermin kehidupan masyarakat yang menjalani hidup dengan perjuangan dan berjuang untuk tetap hidup disaat perekonomian bangsa sedang dalam kondisi terpuruk.

Mestinya pemerintah dapat belajar dari semangat Mbah Mar yang tetap percaya diri dan berdikari untuk mempertahankan hidup. Potensi alam yang tersimpan di bumi Indonesia sebenarnya mampu untuk menjadikan negeri ini makmur dan sejahtera, asalkan dikelola dengan baik dan dilandasi dengan moralitas para pemimpinnya. Sekeras apapun batu, karena sebuah harapan Mbah Mar mampu menjadikan koral.

Begitu juga negeri ini, sedalam apapun terpuruknya pasti akan bangkit kembali asalkan semua mau memaksimalkan diri dengan dan bekerja keras untuk sebuah harapan yaitu bangkit dari keterpurukan ekonomi. Selain itu juga dibutuhkan rasa percaya diri sebagai negara besar yang kaya sumber daya alam dan kebhinekaan budayanya. Sehingga, pantang untuk bergantung pada luar negeri, dengan prinsip berdiri diatas kaki sendiri jauh lebih terhormat dari pada harus bergantung pada bantuan asing yang berujung pada penguasaan ekonomi.//Ipung