Sabtu, 15 Mei 2010 - 16:51:03 WIB
Pidato Spiritual Paduka Soekarno
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Terawang - Dibaca: 8934 kali

Tujuan akhir proklamasi dari Rengas Dengklok belum dibawa ke Bekasi. Karena darurat kala itu, moh yamin dan pemuda meminta saya untuk mencetuskan proklamasi, mereka menginginkan bangsa, kedaulatan, dan perubahan. Bersama Moh. Hatta membangun nuansa kepercayaan rakyat, detik-detik proklamasi 16 Agustus 45 pada kertas kanfas yang kutulis bersama pemuda-pemuda.

Aku tidak pernah tahu, tidak pernah berkata akan jadi pemimpin, karena aku adalah seorang yang bertindak pada penjajah, hanya berkobarkan semangat dalam dada, pada saat terakhir aku meninggalkan jasadku aku berkata, "Tidak akan aku tinggalkan tanahku, karena rakyatku aku menjadi besar, karena guru-guru dan orang tuaku aku menjadi pemimpinĚ." Marhaenisme adalah simbol semangat berkobar dimana rakyatku tertindas, bangsa ini bukan hadiah tapi amanah titipan melalui perjuangan.

Marhaen adalah sosok petani karena cinta pada anaknya, menanam ubi pagi, siang, dan sore. Dengan semangatnyalah ia bangun, gali, dan sirami ladang-ladangnya untuk menghidupi keluarganya. Merah adalah darah ibuku, bapakku, semangatku, yang berkobar membara. Putih adalah dalamnya samudera jiwa yang bersih suci. Aku serahkan pada petani itu jiwa marhaen, aku berdiri dibawah langit-langit untuk anakku.

Aku telah titipkan simpanan dan peninggalan pada petani itu, karena aku berhutang budi dan jasa lewat lembaran merah putih. Kembalikan kami pada budi budaya bangsa ini, ideologi Pancasila. Masa saya sudah habis, tinggal kalian untuk melanjutkan kembali perjuangan ini demi harumnya bangsa seperti cempaka putih kejayaan Nusantara.

Aku titipkan tongkat komando pada seorang petani yang mempunyai jiwa mulia yang telah mendidik semangat jiwa marhaenisme padaku, lewat semangat yang berkobar itulah aku titipkan tongkat komando pada petani itu….